‹ Semua renungan

Senin, 19 Maret 2029

Bapa yang Bukan dari Darah

Kita punya anggapan diam-diam bahwa ikatan darah adalah ikatan yang paling kuat. "Darah lebih kental dari air," begitu kata pepatah. Tetapi hidup sering menunjukkan hal lain. Ada bapak yang membesarkan anak bukan dari darahnya sendiri, dan justru di situ cintanya diuji paling murni, sebab tidak ada dorongan naluri, yang ada hanya pilihan.

Hari ini Gereja merayakan Santo Yusuf, dan Injil menampilkan justru soal itu. Yesus disebut "anak Daud" bukan karena darah, melainkan karena Yusuf. Malaikat menyapanya, "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu." Melalui Yusuf yang menerima, Yesus masuk ke dalam garis keturunan Daud. Ayah yang menamai, bukan ayah yang menurunkan darah.

Menamai anak, dalam tradisi itu, berarti mengakuinya sebagai anak sendiri. Ketika Yusuf menamai bayi itu Yesus, ia sedang berkata kepada seluruh dunia, "Ini anakku." Ia mengambil tanggung jawab penuh atas seorang anak yang ia tahu bukan hasil dirinya.

Bacaan kedua menolong kita mengerti mengapa Yusuf disandingkan dengan Abraham. Paulus menulis bahwa Abraham menjadi "bapa banyak bangsa" bukan lewat kekuatan tubuhnya, sebab tubuhnya sudah setua mati, melainkan lewat iman. "Sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya." Keduanya menjadi bapa lewat percaya, bukan lewat kemampuan alami.

Perhatikan pula bahwa keduanya harus menunggu dalam ketidakpastian. Abraham menanti bertahun-tahun sebuah janji yang seolah mustahil. Yusuf menanti dalam kebingungan, dengan pertanyaan yang tak terjawab tentang kandungan istrinya. Iman keduanya bukan iman yang serba jelas, melainkan iman yang tetap melangkah meski jalan di depan gelap.

Ini kabar baik yang luas. Kebapakan dan keibuan sejati ternyata tidak semata soal biologi. Ia soal kesediaan menerima, menanggung, dan melindungi. Banyak orang tua asuh, guru, pengasuh, wali, om dan tante, yang menjadi "bapa" dan "ibu" bagi anak yang membutuhkan, dan di mata Tuhan itu bukan peran kelas dua.

Yusuf mengingatkan bahwa Allah pun membangun keluarga-Nya bukan dari kepantasan darah kita, melainkan dari kesediaan kita untuk berkata ya. Kita menjadi anak-anak Allah juga bukan karena kelahiran, melainkan karena diangkat, diterima, dan diberi nama baru.

Siapa yang Tuhan percayakan kepadaku untuk kulindungi, meski bukan darah dagingku sendiri?

Santo Yusuf, engkau menjadi bapa lewat iman, bukan lewat darah. Tuhan, ajari aku mencintai bukan karena keharusan, melainkan karena kesediaan. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →