‹ Semua renungan

Minggu, 18 Maret 2029

Empat Hari

Siapa pun yang pernah melayat tahu ada saat ketika penghiburan terasa terlambat. Kata-kata "yang sabar, ya" mulai kehilangan tenaga. Yang tinggal hanya kenyataan dingin: orang yang dikasihi sudah tidak ada, dan tidak ada yang bisa mengembalikannya.

Marta dan Maria berada di titik itu. Saudara mereka, Lazarus, sudah empat hari di dalam kubur. Angka empat itu bukan tanpa arti. Menurut kepercayaan waktu itu, sesudah tiga hari harapan masih tersisa, tetapi hari keempat adalah batas. Sesudahnya, tidak ada lagi. Marta bahkan memperingatkan dengan jujur, "Tuhan, ia sudah berbau."

Yang menarik, Yesus sengaja datang terlambat. Ketika mendengar Lazarus sakit, Ia justru tinggal dua hari lagi di tempat-Nya. Bukan karena Ia tidak peduli. Justru karena Ia mengasihi. Ada kesembuhan yang lebih besar yang ingin Ia berikan daripada sekadar menyembuhkan orang sakit.

Dan ketika tiba, Yesus tidak datang sebagai penonton yang tegar. "Maka menangislah Yesus." Ayat terpendek dalam Kitab Suci, tetapi paling dalam. Allah yang menjelma tidak berdiri jauh dari kubur kita. Ia ikut menangis di depan pintunya.

Sebelum membuka kubur, Yesus lebih dulu membuka hati Marta dengan pertanyaan, "Akulah kebangkitan dan hidup; percayakah engkau akan hal ini?" Ia ingin Marta percaya bukan sekadar pada mukjizat yang akan terjadi, melainkan pada diri-Nya sendiri. Kebangkitan bukan pertama-tama sebuah peristiwa, melainkan sebuah Pribadi.

Baru sesudah air mata itu, Ia berseru, "Lazarus, marilah ke luar!" Dan orang mati itu keluar, kaki dan tangannya masih terikat. Yesus lalu berkata kepada orang-orang di situ, "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi." Menarik, kebangkitan Lazarus masih membutuhkan tangan manusia. Yesus yang menghidupkan, tetapi orang di sekitarnya yang melepaskan ikatannya, membiarkan ia sungguh bebas berjalan.

Yehezkiel jauh sebelumnya sudah melihat lembah penuh tulang kering yang kembali berdaging dan bernapas. Roh yang sama, kata Paulus, kini diam di dalam kita: "Roh Dia yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana."

Kadang kita merasa sudah "empat hari", sudah terlalu jauh, sudah tak ada harapan. Justru ke situlah Yesus datang, menangis lebih dulu, lalu memanggil nama kita untuk keluar.

Ikatan mana yang masih membelenggu kita, yang perlu dibukakan supaya kita sungguh bebas berjalan?

Tuhan, Engkau menangis di depan kuburku dan memanggil namaku. Bukalah kain yang masih mengikatku, dan biarkan aku berjalan dalam hidup baru. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →