Senin, 19 Maret 2029
Hari Raya S. Yusuf, Suami Santa Maria
Hari RayaBacaan Misa
Hari ini didaraskan Kemuliaan dan Aku Percaya.
Bacaan Pertama 2 Samuel 7:4-5a,12-14a,16
Tetapi pada malam itu juga datanglah firman TUHAN kepada Natan, demikian: "Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman TUHAN: Masakan engkau yang mendirikan rumah bagi-Ku untuk Kudiami? Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya. Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia. Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya."
Mazmur Tanggapan Mazmur 89:2-5,27,29
Bacaan Kedua Roma 4:13,16-18,22
Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman. Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, -- seperti ada tertulis: "Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa" --di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada. Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.
Bacaan Injil Matius 1:16,18-21,24a
Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus. Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,
Renungan
Bapa yang Bukan dari Darah
Kita punya anggapan diam-diam bahwa ikatan darah adalah ikatan yang paling kuat. "Darah lebih kental dari air," begitu kata pepatah. Tetapi hidup sering menunjukkan hal lain. Ada bapak yang membesarkan anak bukan dari darahnya sendiri, dan justru di situ cintanya diuji paling murni, sebab tidak ada dorongan naluri, yang ada hanya pilihan.
Hari ini Gereja merayakan Santo Yusuf, dan Injil menampilkan justru soal itu. Yesus disebut "anak Daud" bukan karena darah, melainkan karena Yusuf. Malaikat menyapanya, "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu." Melalui Yusuf yang menerima, Yesus masuk ke dalam garis keturunan Daud. Ayah yang menamai, bukan ayah yang menurunkan darah.
Menamai anak, dalam tradisi itu, berarti mengakuinya sebagai anak sendiri. Ketika Yusuf menamai bayi itu Yesus, ia sedang berkata kepada seluruh dunia, "Ini anakku." Ia mengambil tanggung jawab penuh atas seorang anak yang ia tahu bukan hasil dirinya.
Bacaan kedua menolong kita mengerti mengapa Yusuf disandingkan dengan Abraham. Paulus menulis bahwa Abraham menjadi "bapa banyak bangsa" bukan lewat kekuatan tubuhnya, sebab tubuhnya sudah setua mati, melainkan lewat iman. "Sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya." Keduanya menjadi bapa lewat percaya, bukan lewat kemampuan alami.
Perhatikan pula bahwa keduanya harus menunggu dalam ketidakpastian. Abraham menanti bertahun-tahun sebuah janji yang seolah mustahil. Yusuf menanti dalam kebingungan, dengan pertanyaan yang tak terjawab tentang kandungan istrinya. Iman keduanya bukan iman yang serba jelas, melainkan iman yang tetap melangkah meski jalan di depan gelap.
Ini kabar baik yang luas. Kebapakan dan keibuan sejati ternyata tidak semata soal biologi. Ia soal kesediaan menerima, menanggung, dan melindungi. Banyak orang tua asuh, guru, pengasuh, wali, om dan tante, yang menjadi "bapa" dan "ibu" bagi anak yang membutuhkan, dan di mata Tuhan itu bukan peran kelas dua.
Yusuf mengingatkan bahwa Allah pun membangun keluarga-Nya bukan dari kepantasan darah kita, melainkan dari kesediaan kita untuk berkata ya. Kita menjadi anak-anak Allah juga bukan karena kelahiran, melainkan karena diangkat, diterima, dan diberi nama baru.
Siapa yang Tuhan percayakan kepadaku untuk kulindungi, meski bukan darah dagingku sendiri?
Santo Yusuf, engkau menjadi bapa lewat iman, bukan lewat darah. Tuhan, ajari aku mencintai bukan karena keharusan, melainkan karena kesediaan. Amin.
Invitatorium
SENIN V PAGI
Pembukaan
Ant. Marilah kita menyembah Kristus Tuhan, yang digoda dan disiksa untuk kita.
MAZMUR 94 (95)
Ant. Marilah kita menyembah Kristus Tuhan, yang digoda dan disiksa untuk kita.
Ibadat Bacaan
MADAH
PSALMODI
Ant. 1 Tunjukkanlah belas kasihan-Mu kepadaku, Tuhan, dan lindungilah aku.
Mazmur 6
Aku sangat terkejut… Bapa, selamatkanlah aku dari saat ini (Yohanes 12:27).
Ant. Tunjukkanlah belas kasihan-Mu kepadaku, Tuhan, dan lindungilah aku.
Ant. 2 Orang miskin tidak sendirian dalam kesusahan mereka; Allah ada di sana untuk menolong mereka.
Ant. Orang miskin tidak sendirian dalam kesusahan mereka; Allah ada di sana untuk menolong mereka.
Ant. 3 Aku akan menjadi pewarta pujian-Mu, Tuhan, di mana umat Sion berkumpul.
Ant. Aku akan menjadi pewarta pujian-Mu, Tuhan, di mana umat Sion berkumpul.
BACAAN
BACAAN PERTAMA
RESPONSORIUM Ibrani 2:11, 17; Barukh 3:38
BACAAN KEDUA
RESPONSORIUM Roma 5:10, 8, 9
DOA PENUTUP
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan bersama)
Ibadat Pagi
SENIN III PAGI
Pembukaan
Ant. Marilah kami menghadap wajah Tuhan dengan lagu syukur.
MAZMUR 94 (95)
bersorak-sorai bagi penyelamat kami.
Menghadap wajah-Nya dengan lagu syukur,
Ant. Marilah kami menghadap wajah Tuhan dengan lagu syukur.
Madah
Ant.1: Berbahagialah orang yang diam di rumah-Mu, ya Tuhan.
Mazmur 83 (84)
Ant.1: Berbahagialah orang yang diam di rumah-Mu, ya Tuhan.
Ant.2: Marilah kami naik ke gunung Tuhan.
di antara puncak gunung-gemunung,*
Ant.2: Marilah kami naik ke gunung Tuhan.
Ant.3: Bernyanyilah bagi Tuhan, pujilah nama-Nya.
Mazmur 95 (96)
Ant.3: Bernyanyilah bagi Tuhan, pujilah nama-Nya.
Ant.Kidung: Terpujilah Tuhan, Allah kami.
KIDUNG ZAKARIA (Luk 1,68-79)
Ant.Kidung: Terpujilah Tuhan, Allah kami.
Doa Permohonan
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Sebelum Tengah Hari
Pembukaan
Madah
Doa Penutup
Ibadat Tengah Hari
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
SENIN III SIANG
Madah
Ant.1: Aku selalu mengindahkan perintah-Mu, ya Tuhan, sebab dengan sabda-Mu Engkau menghidupkan daku.
Mazmur 118 (119),89-96
Ant.1: Aku selalu mengindahkan perintah-Mu, ya Tuhan, sebab dengan sabda-Mu Engkau menghidupkan daku.
Ant.2: Tuhan, Engkaulah kepercayaanku, sejak masa mudaku .
Mazmur 70 (71) I
gua perlindungan yang aman,*
sejak aku lahir Engkaulah kekuatanku,*
Ant.2: Tuhan, Engkaulah kepercayaanku, sejak masa mudaku.
Ant.3: Semoga juga pada masa tuaku, tidak Kautinggalkan daku.
Mazmur 70 (71) II
karena Engkau melakukan perbuatan Yang Agung,*
Ant.3: Semoga juga pada masa tuaku, tidak Kautinggalkan daku.
Bacaan singkat (2Kor 13,11)
Doa Penutup
Ibadat Sesudah Tengah Hari
Pembukaan
Madah
Doa Penutup
Ibadat Sore
SENIN III SORE
Madah
Ant.1: Kita memandang Tuhan sampai Ia mengasihani.
Mazmur 122 (123)
Ant.1: Kita memandang Tuhan sampai Ia mengasihani.
Ant.2: Penolong kami ialah Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.
Mazmur 123 (124)
Ant.2: Penolong kami ialah Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.
Ant.3: Allah telah memilih kami menjadi anak-Nya dengan perantaraan Putera-Nya.
Ant.3: Allah telah memilih kami menjadi anak-Nya dengan perantaraan Putera-Nya.
Ant. Kidung: Aku mengagungkan Tuhan, sebab Allah memperhatikan daku, hamba-Nya yang hina ini.
KIDUNG MARIA (Luk 1,46-5)
Ant. Kidung: Aku mengagungkan Tuhan, sebab Allah memperhatikan daku, hamba-Nya yang hina ini.
Doa Permohonan
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Penutup
IBADAT PENUTUP - SENIN
Doa Tobat
Madah
Ant: Tuhan, Engkau sabar dan penuh kasih setia.
Mazmur 85 (86)
Ant: Tuhan, Engkau sabar dan penuh kasih setia.
Bacaan singkat (1Tes 5,9-10)
Ant.Kidung: Berkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon:
Ant.Kidung: Berkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Santo-Santa
S. Yusuf, Suami Santa Maria
Suami Santa Perawan Maria dan Pelindung Gereja Semesta · ± abad ke-1
Yusuf adalah suami Santa Perawan Maria dan bapa asuh Yesus Kristus. Ia berasal dari keturunan Raja Daud dan hidup di Nazaret, sebuah kota kecil di Galilea, sebagai seorang tukang kayu. Injil Matius menyebutnya orang yang tulus hati, seorang yang benar dan taat kepada Allah. Meski namanya hampir tak pernah terdengar berbicara dalam Kitab Suci, justru melalui ketaatannya yang sunyi ia mengambil bagian besar dalam karya keselamatan.
Titik balik hidupnya datang ketika ia mendapati Maria, tunangannya, telah mengandung. Sebagai orang benar dan tidak mau mencemarkan nama Maria, ia berniat menceraikannya diam-diam. Namun seorang malaikat Tuhan menampakkan diri dalam mimpi dan menjelaskan bahwa anak yang dikandung Maria berasal dari Roh Kudus. Yusuf pun bangun, mengambil Maria sebagai istrinya, dan menerima Kanak-kanak itu sebagai anaknya sendiri.
Ketaatan Yusuf teruji berulang kali. Ketika Raja Herodes hendak membunuh sang Bayi, malaikat kembali memperingatkannya dalam mimpi, dan malam itu juga Yusuf membawa Maria serta Yesus mengungsi ke Mesir. Sesudah Herodes mati, ia dituntun pulang dan menetap kembali di Nazaret. Di sanalah, dalam kesederhanaan bengkel tukang kayu, ia membesarkan Yesus dan mengajarkan keahliannya, sehingga Yesus dikenal sebagai anak tukang kayu.
Kitab Suci tidak mencatat kata-kata Yusuf, juga tidak menceritakan kematiannya. Menurut tradisi, ia wafat sebelum Yesus memulai karya-Nya di depan umum, dalam pelukan Yesus dan Maria. Karena itulah ia dihormati sebagai pelindung orang yang menghadapi ajal dengan tenang, sebuah kematian yang baik.
Penghormatan kepada Santo Yusuf berkembang pesat dari abad ke abad. Pada 8 Desember 1870, Paus Pius IX menyatakannya sebagai Pelindung Gereja Semesta. Hari rayanya dirayakan pada 19 Maret, sementara 1 Mei dikhususkan bagi Santo Yusuf Pekerja. Umat mengenangnya sebagai teladan kesetiaan, kerja jujur, dan cinta yang melindungi keluarga tanpa banyak kata.
Pelindung: Gereja semesta, para bapa dan keluarga, para pekerja, kaum perantau, serta orang yang menghadapi kematian.
Santo Yusuf
Suami Maria
Semua pengetahuan kita tentang Santo Yusuf, suami Santa Perawan Maria dan Ayah piara Yesus, Putra Allah, bersumber pada dua bab pembukaan dari Injil Matius dan Lukas. Secara umum, Yusuf dianggap sebagai ayah Yesus. Karena Yusuf adalah turunan raja Daud, maka Yesus juga dianggap sebagai keturunan Raja Daud. Yesus lalu disebut Putra Daud. Hubungan Yusuf dan Maria lebih daripada suatu hubungan pertunangan. Hubungan mereka merupakan suatu hubungan perkawinan yang sah, walaupun pada mulanya mereka tidak pernah hidup sebagai suami istri. Kira- kira selama satu tahun, mereka tidak pernah hidup bersama di bawah satu atap. Ketika Maria mengandung secara ajaib oleh Kuasa Roh Kudus, Yusuf bingung dan bermaksud meninggalkan Maria secara diam- diam. Namun Yusuf yang saleh itu tidak percaya akan godaan kebingungan dan kecurigaan terhadap Maria yang sedang hamil itu. Matius dalam injilnya mengatakan bahwa Yusuf memutuskan untuk meninggalkan Maria secara diam- diam (Mat1:19).
Sehubungan dengan itu, selanjutnya Matius mengatakan bahwa Allah mengutus seorang malaikat untuk menerangkan kepada Yusuf bahwa anak yang ada di dalam rahim Maria sesungguhnya berasal dari Roh Kudus. Oleh kunjungan malaikat Allah itu dan setelah merenungkan pesan yang disampaikan, Yusuf tanpa ragu- ragu mengambil Maria sebagai istrinya dan mulai tinggal serumah (Mat1:24). Untuk menghindari salah pengertian, Matius selanjutnya mengatakan bahwa Yusuf bukanlah ayah kandung Yesus. Matius berkata: œIa tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki- laki (Mat1:25). Kata sampai yang digunakan Matius menunjukkan bahwa Yusuf tidak bersetubuh dengan Maria sebelum Maria melahirkan anaknya. Kata itupun tidak berarti bahwa setelah Maria melahirkan Yesus, Yusuf bersetubuh dengan Maria. Kata- kata anaknya laki- laki, bahkan dikatakan anaknya yang sulung (Luk2:7) juga tidak berarti bahwa Maria mempunyai beberapa anak. Istilah itu adalah suatu istilah yang lazim dan sah untuk menamai setiap anak laki- laki pertama yang lahir dari suatu perkawinan, meskipun anak itu tidak mempunyai saudara dan saudari. Lukas dalam bab dua Injilnya menyebut Yusuf dan Maria sebagai orangtua Yesus (Luk2:27).
Menurut Matius, Yusuf adalah seorang tukang kayu (Mat13:55). Tentang riwayat hidupnya tidak banyak dikisahkan, tetapi diperkirakan Yusuf meninggal dunia sebelum Yesus tampil didepan umum untuk memulai karya Nya. Karena, ia tidak pernah disebut- sebut lagi selama kurun waktu penampilan Yesus itu. Salah satu bukti biblis untuk menunjukkan hal ini dapat ditemukan di dalam lukisan penginjil Yohanes tentang peristiwa penyerahan Maria kepada Yohanes, murid kesayangannya Yesus: Ketika Yesus melihat ibu Nya dan murid yang dikasihi Nya disampingnya, berkatalah Ia kepada Ibu Nya: Ibu, inilah anakmu, kesampingnya, berkatalah Ia kepada murid Nya: Inilah Ibumu! Dan sejak itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya (Yoh19:26 27). Teks ini menunjukkan bahwa pada waktu itu Maria sudah menjanda.
Cerita- cerita apokrif purba menggambarkan Yusuf sebagai seorang lelaki yang sudah tua, bahkan tua sekali. Cerita ini mau melukiskan bahwa pada waktu itu tak seorang pun menganggap Yusuf sebagai ayah kandung Yesus. Sebaliknya, kehamilan Maria dianggap sebagai suatu peristiwa yang memalukan bahkan merupakan skandal karena Yusuf suaminya sudah dikatakan tua sekali.
Cerita purba itu melukiskan Yusuf sebagai seorang duda yang mempunyai enam orang anak dari perkawinannya yang pertama. Kisah ini dimaksudkan untuk menerangkan bagian Injil yang melukiskan tentang saudara- saudara Yesus (Mat12:46; Yoh2:12; Yoh7:10). Keterangan yang sebenarnya ditemukan dalam makna kata bahasa Aram yang digunakan Yesus dan murid- murid Nya. Bahasa Aram menggunakan kata yang sama untuk melukiskan saudara- saudara dan sepupu- sepupu, dan para pengarang Injil mengetahui bahwa hal ini akan berarti dan dipahami oleh umat yang menjadi tujuan penulisan Injil bila mereka menunjuk kepada saudara- saudara Yesus. Yusuf dan Maria benar- benar menikah. Mereka memiliki hak- hak perkawinan secara penuh satu terhadap yang lain seperti lazimnya suami istri, walaupun mereka sendiri tidak menggunakan hak- hak itu. Alasan pokok teologis mengapa Yesus dilahirkan dari seorang Perawan adalah bahwa Pribadi kedua dalam Allah Tritunggal MahaKudus itu telah ada sejak kekal. Kelahiran Nya sebagai manusia melalui rahim Maria menunjukkan kehendak Allah untuk menjadi seorang anggota umat manusia dalam sebuah keluarga manusia. Yusuf meskipun bukan ayah Yesus dalam arti fisik dihubungkan dengan Yesus oleh persatuan rohaniah seorang ayah, kewibawaan dan pelayanan. Yesus termasuk anggota keluarga Yusuf dan hubungan itu diungkapkan dengan menggambarkan Yusuf sebagai ayah piara bahkan ayah Yesus yang sah.
Devosi kepada Santo Yusuf tidak dikenal gereja selama berabad-abad. Hal ini dilatarbelakangi oleh suatu kekhawatiran bahwa tekanan yang berlebihan pada kedudukan Yusuf dapat menimbulkan anggapan umum bahwa Yusuf adalah ayah kadung dari Yesus. Dalam praktek sekarang, Gereja menghormati Yusuf karena kekudusan dan martabat Maria sebagai Bunda Yesus, Putra Allah. Sri Paus Pius IX (1846- 1878) pada tanggal 8 Desember 1870 menetapkan Yusuf sebagai pelindung gereja universal. Dalam litani Santo Yusuf, yusuf dilukiskan sebagai pelindung bagi para buruh / karyawan, keluarga, para perawan, orang- orang sakit dan orang- orang yang telah meninggal. Ia juga dihormati sebagai tokoh doa dan kehidupan rohani, pelindung para fakir miskin, para penguasa, bapa- bapa keluarga, imam- imam dan kaum religius serta pelindung para penziarah.
Pada tahun 1937, Sri Paus Pius XI (1922- 1939) mengangkat Santo Yusuf sebagai pelindung pujangga Gereja melawan komunisme ateistik. Dan pada tahun 1961, Sri Paus Yohanes XXIII (1958-1963) memilih Yusuf sebagai pelindung surgawi Konsili Vatikan II. Nama Yusuf sendiri mulai dimasukkan dalam kanon misa pada tahun 1962.
Pada abad ke delapan dan kesembilan, pada tanggal 19 Maret ditentukan sebagai hari raya utama santo Yusuf. Pada tahun 1955, Sri Paus Pius XII (1939- 1958) memaklumkan pesta Santo Yusuf pekerja yang dirayakan pada tanggal 1 Mei. Pesta ini menekankan martabat pekerjaan dan keteladanan Santo Yusuf sebagai pekerja dan untuk menyetakan kembali keikutsertaan Gereja dalam karya penyelamatan Allah.