‹ Semua renungan

Minggu, 11 Maret 2029

Melihat dari Dalam

Ketika memilih menantu, memilih pegawai, bahkan memilih ketua lingkungan, manusia hampir selalu mulai dari yang tampak: paras, tinggi badan, cara berpakaian, gelar. Kita menilai sampul lebih dulu, karena sampul memang yang paling cepat terbaca.

Samuel pun begitu. Ketika Eliab yang gagah lewat, hatinya langsung berkata, "Sungguh, inilah yang diurapi Tuhan." Tetapi Tuhan menegur, "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati." Lalu yang dipilih justru si bungsu yang sedang menggembala, yang bahkan tidak diikutkan ke acara.

Injil hari ini membawa soal melihat itu lebih jauh. Seorang buta sejak lahir disembuhkan Yesus dengan tanah dan air kolam Siloam. Nama Siloam sendiri berarti "yang diutus." Orang itu pulang dengan mata yang bisa melihat.

Tetapi yang menarik justru kebalikannya. Orang yang tadinya buta perlahan makin jelas melihat siapa Yesus: mula-mula ia menyebut "orang yang disebut Yesus", lalu "seorang nabi", lalu akhirnya sujud, "Aku percaya, Tuhan." Sementara orang-orang Farisi yang sehat matanya justru makin buta. Mereka melihat mukjizat dengan mata, tetapi hati mereka gelap gulita.

Di sinilah letak kejutannya. Ada orang yang matanya awas tetapi hatinya buta, dan ada yang matanya pernah gelap tetapi hatinya terang.

Ada juga keberanian dalam kisah ini. Ketika ditekan para pemuka, orang yang dulu buta itu tidak mengarang teori yang rumit. Ia hanya berpegang pada satu hal yang ia alami sendiri, "Satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat." Kadang iman memang tidak perlu jawaban atas segala pertanyaan. Ia cukup bersaksi jujur tentang apa yang sudah Tuhan kerjakan dalam hidup kita.

Paulus menyimpulkannya dengan gamblang, "Dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang." Ada pepatah Jawa, urip iku urup, hidup itu menyala, menjadi cahaya bagi sekitar. Orang beriman bukan sekadar yang bisa melihat, melainkan yang ikut menerangi.

Minggu Laetare ini mengajak kita bersukacita di tengah Prapaskah. Sukacitanya justru ini: mata batin kita, yang lama gelap, sedang dibuka pelan-pelan oleh Dia yang diutus.

Adakah hal yang selama ini kulihat dengan mata, tetapi belum sungguh kupahami dengan hati?

Tuhan, Engkau melihat hatiku, bukan sampulku. Basuhlah mata batinku sampai aku melihat-Mu dan menjadi terang bagi sesama. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →