Sabtu, 10 Maret 2029
Dua Cara Berdiri
Perhatikan bagaimana orang berdiri saat berdoa, dan kita hampir bisa menebak isi hatinya. Ada yang berdiri tegak di depan, dada terbuka, seolah melapor prestasi. Ada yang berdiri jauh di belakang, kepala tertunduk, tangan memukul dada.
Yesus menaruh dua cara berdiri itu dalam satu cerita. Orang Farisi berdiri dan berdoa, tetapi doanya penuh kata "aku": aku berpuasa, aku memberi persepuluhan, aku tidak seperti orang lain. Doanya sebenarnya cermin, bukan jendela. Ia sedang berbicara kepada dirinya sendiri, mengagumi pantulannya.
Pemungut cukai berdiri jauh-jauh dan hanya berkata, "Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini." Tujuh kata. Tidak ada daftar amal, tidak ada perbandingan. Hanya seorang yang tahu ia butuh belas kasihan.
Dan Yesus menutup dengan kalimat yang membalik segalanya: yang pulang dibenarkan Allah justru pemungut cukai, bukan si Farisi.
Hosea sudah lama memperingatkan, "Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan." Tuhan tidak terkesan oleh daftar persembahan kita. Ia tergerak oleh hati yang jujur mengakui diri.
Ketika berdoa, sebenarnya kepada siapa kita bicara, kepada Allah atau kepada bayangan diri sendiri?
Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Cukup itu doaku hari ini, dan Engkau mendengarnya. Amin.