Jumat, 9 Maret 2029
Seperti Embun
Embun tidak turun dengan gemuruh. Ia datang tanpa suara di dini hari, dan pagi-pagi benar orang mendapati rumput sudah basah, daun sudah berat oleh titik-titik air. Tidak ada yang melihat kapan tepatnya ia turun. Yang kelihatan hanya hasilnya: yang layu kembali segar.
Hosea memakai gambar itu untuk melukiskan cara Tuhan memulihkan umat-Nya. "Aku akan seperti embun bagi Israel, maka ia akan berbunga seperti bunga bakung." Bukan seperti badai yang mematahkan, melainkan seperti embun yang diam-diam menghidupkan.
Nabi itu mengajak umat kembali dengan kata-kata sederhana, "Bawalah sertamu kata-kata penyesalan, dan bertobatlah kepada Tuhan." Tobat rupanya tidak selalu peristiwa besar yang menggemparkan. Sering ia sehalus embun: sebuah keputusan kecil di pagi hari untuk berbalik.
Dalam Injil, seorang ahli Taurat bertanya hukum manakah yang terutama. Yesus menjawab dengan yang sudah lama mereka hafal: kasihilah Tuhan dengan segenap hati, dan kasihilah sesama seperti diri sendiri. Ahli itu setuju, dan Yesus berkata, "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah."
Tidak jauh. Tinggal selangkah, seperti embun yang tinggal turun.
Apakah hari ini aku menanti badai, padahal Tuhan sudah lama datang sebagai embun?
Tuhan, turunlah ke hatiku yang layu seperti embun pagi. Buat aku berbunga lagi dalam kasih. Amin.