Kamis, 8 Maret 2029
Telinga yang Menutup
Tubuh punya bahasa yang jujur. Kalau kita tidak mau mendengar seseorang, tanpa sadar kita memalingkan wajah, menegangkan bahu, mengeraskan tengkuk. Kata Yeremia, bangsa itu "memperlihatkan belakangnya dan bukan mukanya" kepada Tuhan, dan "menegarkan tengkuknya."
Tengkuk yang tegar itu bukan soal tulang, melainkan soal sikap. Ia tanda orang yang sudah memutuskan tidak akan berbalik, apa pun yang dikatakan kepadanya. "Sekalipun engkau berseru kepada mereka," kata Tuhan kepada nabi, "mereka tidak akan menjawab engkau."
Dalam Injil, orang menyaksikan sendiri setan diusir dan orang bisu bisa berkata-kata. Mukjizat di depan mata. Tetapi bukannya bersyukur, mereka berkata Yesus mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Mereka tidak kekurangan bukti. Mereka kekurangan kesediaan untuk mendengar.
Inilah yang menakutkan: hati bisa membatu bukan karena kurang tanda, melainkan karena terlalu sering menolak tanda sampai menolak menjadi kebiasaan. Sekali menutup telinga terasa berat, kesepuluh kali terasa biasa. Dan yang paling ngeri, lama-lama kita bahkan tak lagi merasa sedang menutup. Bukti tidak pernah cukup bagi hati yang sudah memutuskan.
Prapaskah mengajak memeriksa tengkuk kita sendiri. Kepada siapa hari ini aku memalingkan wajah? Suara mana yang sudah lama kutolak karena aku telanjur memutuskan?
Tuhan, lembutkan tengkukku yang keras. Bukalah telingaku hari ini, sebelum menutup menjadi kebiasaan. Amin.