Minggu, 25 Februari 2029
Berangkat pada Usia 75
Pada usia tujuh puluh lima tahun, kebanyakan orang sedang berkemas untuk berhenti. Rumah sudah tetap, kebiasaan sudah mengendap, peta hidup sudah hafal di luar kepala. Justru pada usia itulah Abram menerima perintah yang mengguncang: pergilah dari negerimu, dari sanak saudaramu, dari rumah bapamu, ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.
Perhatikan, negeri itu belum disebut namanya. Akan Kutunjukkan, kata Allah. Abram diminta berangkat dengan alamat yang baru akan diberitahukan di jalan. Dan ayat berikutnya hanya berkata pendek: lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya. Tanpa tawar-menawar. Iman ternyata bukan soal mengetahui semua jawaban, melainkan berani melangkah bersama Dia yang tahu.
Injil hari ini membawa kita ke gunung yang tinggi. Minggu lalu kita mendengar Petrus mengaku: Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Kini pengakuan itu diberi penglihatan: wajah Yesus bercahaya seperti matahari, Musa dan Elia hadir, dan suara Bapa terdengar dari awan: Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.
Reaksi Petrus sangat manusiawi: Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini, biarlah kudirikan tiga kemah. Petrus ingin menetap di puncak yang indah, mengabadikan saat bahagia, dan tidak turun lagi. Tetapi kemah itu tidak jadi didirikan. Yesus menyentuh mereka, berkata jangan takut, lalu mengajak mereka turun. Di kaki gunung, jalan menuju Yerusalem dan salib sudah menunggu.
Abram diminta berangkat, Petrus diminta turun. Dua arah yang tampak berbeda, satu pelajaran yang sama: Allah tidak membiarkan kita menetap terlalu lama, baik dalam kemapanan maupun dalam kenyamanan rohani. Iman selalu berbentuk perjalanan.
Paulus menuliskan bekalnya kepada Timotius: Allah menyelamatkan dan memanggil kita bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri. Kita berangkat bukan karena kuat, melainkan karena dipanggil dan disertai.
Minggu kedua Prapaskah ini bertanya: di mana kita sedang mendirikan kemah dan enggan beranjak? Kenyamanan mana yang diam-diam menghalangi panggilan Tuhan: pekerjaan, kebiasaan lama, atau bahkan cara berdoa yang tidak pernah bertumbuh?
Tuhan, seperti Abram, buatlah aku berani berangkat, dan seperti para murid, buatlah aku rela turun gunung untuk mengikuti Engkau sampai ke Yerusalem. Amin.