Selasa, 20 Februari 2029
Seperti Hujan Turun
Hujan bulan Februari kadang membuat kesal. Jemuran tidak kering, jalan tergenang. Tetapi tanyakanlah kepada petani. Baginya setiap hujan adalah kiriman. Air itu turun, meresap tanpa suara, dan berbulan-bulan kemudian muncul kembali sebagai bulir padi. Hujan tidak pernah pulang dengan tangan kosong.
Yesaya memakai gambar itu untuk firman Allah: seperti hujan turun dari langit dan tidak kembali ke situ melainkan mengairi bumi, demikianlah firman-Ku, ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia. Firman yang kita dengar hari ini mungkin terasa lewat begitu saja. Jangan tertipu. Ia sedang meresap, bekerja pelan di bawah permukaan hati.
Karena Allah bekerja seperti itu, doa kita tidak perlu riuh. Yesus berpesan: dalam doamu janganlah bertele-tele, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan sebelum kamu minta. Lalu Ia memberikan doa yang pendek dan padat: Bapa Kami. Beberapa kalimat saja, tetapi cukup untuk seumur hidup.
Doa bukan pidato untuk meyakinkan Allah. Doa lebih mirip tanah yang membuka diri terhadap hujan.
Hari ini, maukah kita diam sejenak dan membiarkan firman itu meresap?
Bapa, turunkanlah firman-Mu ke tanah hatiku, dan kerjakanlah di sana apa yang Engkau kehendaki. Amin.