Senin, 19 Februari 2029
Wajah yang Terlewat
Di lampu merah, kaca mobil dan wajah pengamen hanya berjarak sejengkal. Tetapi jarak sejengkal itu bisa kita ubah menjadi berkilo-kilometer, cukup dengan memalingkan muka dan berpura-pura sibuk.
Injil hari ini membuat palingan muka itu terasa mengerikan. Pada penghakiman terakhir, Raja memisahkan manusia bukan berdasarkan banyaknya doa, melainkan berdasarkan hal-hal yang kelihatannya remeh: memberi makan, memberi minum, memberi tumpangan, mengunjungi yang sakit dan yang terpenjara. Lalu kalimat yang mengubah segalanya: segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.
Jadi selama ini Kristus lewat berkali-kali, dan kita tidak mengenali-Nya. Ia menyamar terlalu sempurna: sebagai tetangga yang kesepian, buruh yang upahnya ditahan, anak yang tidak diperhatikan siapa-siapa.
Kitab Imamat memberi dasarnya: kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan Allahmu, kudus. Dan anehnya, perintah agung itu langsung disusul urusan bumi: jangan menahan upah pekerja, jangan mengutuki orang tuli. Kekudusan dalam Alkitab selalu punya alamat sosial.
Hari ini, wajah siapa yang sedang Tuhan pakai untuk menjumpai kita?
Tuhan, bukalah mataku agar mengenali-Mu dalam wajah saudara-Mu yang paling hina. Amin.