Minggu, 18 Februari 2029
Kata Orang, Kata Kita
Tentang diri kita, selalu ada dua berkas keterangan. Yang pertama: kata orang. Yang kedua: kenyataan kita. Keduanya jarang persis sama. Kata orang bisa lebih bagus, bisa lebih buruk, dan hampir selalu lebih dangkal.
Di Kaisarea Filipi Yesus mengajukan dua pertanyaan bertingkat. Yang pertama mudah: kata orang, siapakah Anak Manusia itu? Murid-murid menjawab lancar, seperti orang melaporkan hasil dengar-dengaran. Ada yang bilang Yohanes Pembaptis, ada yang bilang Elia, ada yang bilang Yeremia. Semua jawaban itu terhormat, dan semuanya meleset.
Lalu pertanyaan kedua turun seperti anak tangga ke ruang paling pribadi: tetapi apa katamu, siapakah Aku ini? Di sini tidak ada lagi tempat bersembunyi di balik kutipan. Iman tidak bisa diwakilkan. Orang bisa mewarisi agama dari orang tuanya, tetapi tidak bisa mewarisi jawaban atas pertanyaan itu. Setiap orang harus menjawab dengan mulutnya sendiri.
Simon menjawab: Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Dan Yesus menyingkapkan rahasianya: bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Pengakuan iman yang sejati bukan hasil kepintaran, melainkan buah keterbukaan pada rahmat. Di atas pengakuan itu, di atas Petrus si batu karang, Yesus mendirikan jemaat-Nya.
Minggu pertama Prapaskah adalah saat yang tepat mendengar pertanyaan itu diarahkan kepada kita. Empat puluh hari ini seperti retret panjang, dan setiap retret yang jujur dimulai dari pertanyaan dasar: bagi saya, siapakah Yesus sebenarnya? Sekadar tokoh sejarah? Kebiasaan keluarga? Pintu darurat di saat susah? Atau sungguh Mesias, Anak Allah yang hidup, poros tempat seluruh hidup saya berputar?
Jawaban itu tidak berhenti di bibir. Petrus dalam suratnya menunjukkan buahnya: gembalakanlah kawanan domba Allah, jangan dengan paksa, jangan mencari keuntungan, jadilah teladan. Orang yang sungguh mengenal Kristus perlahan menjadi serupa dengan Dia: memimpin dengan melayani, kuat tanpa menindas.
Pekan ini, cobalah berdiam sejenak setiap malam dan biarkan pertanyaan itu berbunyi: apa katamu, siapakah Aku ini? Jangan buru-buru menjawab dengan hafalan. Biarkan hati mencari kata-katanya sendiri.
Tuhan Yesus, singkapkanlah diri-Mu kepadaku, agar aku mengenal-Mu bukan dari kata orang, melainkan dari perjumpaan pribadi dengan-Mu. Amin.