Rabu, 21 Februari 2029
Satu Kalimat, Satu Kota
Ada khotbah berjam-jam yang tidak mengubah siapa-siapa. Dan ada seruan satu kalimat yang mengubah satu kota. Yunus masuk ke Niniwe, kota besar yang tiga hari perjalanan luasnya, dan hanya berseru: empat puluh hari lagi Niniwe akan ditunggangbalikkan. Itu saja. Tanpa mukjizat, tanpa penjelasan panjang.
Hasilnya mencengangkan. Seluruh kota bertobat, dari raja sampai rakyat, bahkan ternak ikut berpuasa. Raja turun dari singgasana dan duduk di abu. Dan Allah, melihat mereka berbalik dari jalan yang jahat, tidak jadi mendatangkan malapetaka. Niniwe selamat.
Mengapa satu kalimat bisa sedahsyat itu? Karena yang menentukan bukan panjang khotbahnya, melainkan kesediaan pendengarnya. Niniwe kota asing yang tidak mengenal Allah, tetapi hatinya lunak. Mereka percaya pada peringatan pertama.
Yesus menyindir angkatan-Nya dengan perbandingan itu: orang Niniwe bertobat oleh pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus. Sindiran itu sampai juga kepada kita. Kita memiliki Injil yang lengkap, sakramen, dan dua ribu tahun kesaksian. Yang sering kurang bukan tanda, melainkan hati yang mau berbalik.
Peringatan mana yang sudah lama kita dengar tetapi belum juga kita jalankan?
Tuhan, lembutkanlah hatiku seperti hati orang Niniwe, agar aku berbalik selagi masih ada waktu. Amin.