Senin, 12 Februari 2029
Petang Dulu, Baru Pagi
Kita terbiasa menganggap hari dimulai saat matahari terbit. Bangun, membuka jendela, mulai bekerja. Kisah penciptaan memakai urutan yang mengejutkan: jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama. Petang disebut lebih dulu. Dalam hitungan Kitab Suci, hari justru dimulai dari senja.
Apa artinya? Hari dimulai bukan ketika kita mulai bekerja, melainkan ketika kita mulai beristirahat. Saat kita terlelap dan tidak berbuat apa-apa, Allah tetap berkarya. Kita bangun bukan untuk memulai hari, melainkan untuk menyusul Allah yang sudah lebih dulu bekerja. Alangkah melegakannya. Dunia ini tidak berputar karena kita yang mengawalnya.
Lihat pula irama penciptaan itu: teratur, sabar, sehari demi sehari. Terang dulu, baru cakrawala. Darat dulu, baru tumbuhan. Allah tidak tergesa-gesa, dan pada setiap tahap Ia berhenti untuk menikmati: Allah melihat bahwa semuanya itu baik.
Kita sering hidup terbalik. Merasa semua bergantung pada diri sendiri, tergesa-gesa, dan jarang berhenti untuk mengakui bahwa yang ada ini baik.
Malam ini, sebelum tidur, cobalah menutup hari seperti Allah menutup tiap hari penciptaan: hari ini pun, semuanya baik.
Tuhan, ajarilah aku memercayakan hariku kepada-Mu, sejak petang sampai pagi. Amin.