Kamis, 8 Februari 2029
Dua Gunung
Ada orang yang membayangkan Tuhan seperti gunung berapi. Angker, berasap, sewaktu-waktu bisa meletus. Mendekat berarti bahaya. Maka hidup rohaninya penuh waswas, seperti orang berjalan berjingkat di rumah sendiri.
Kemarin surat Ibrani berbicara tentang Tuhan yang mendidik kita seperti seorang bapa. Hari ini penulisnya melukis dua gunung. Gunung pertama adalah Sinai: api menyala, kekelaman, angin badai, bunyi sangkakala. Musa sendiri berkata: aku sangat ketakutan dan gemetar. Gunung kedua adalah Sion: kota Allah yang hidup, beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah. Yang satu membuat orang lari, yang lain membuat orang berpesta.
Lalu penulis Ibrani menegaskan: kamu tidak datang ke gunung yang pertama. Kamu sudah datang ke gunung yang kedua. Melalui Yesus, Pengantara perjanjian baru, jalan menuju Allah bukan lagi pendakian yang mengerikan, melainkan jalan pulang menuju perayaan.
Karena itulah murid-murid dalam Injil berani berangkat berdua-dua tanpa bekal. Orang hanya berani hidup seringan itu kalau yakin Bapanya baik.
Gunung mana yang selama ini kita bayangkan saat berdoa: Sinai yang menakutkan, atau Sion yang menyambut?
Tuhan, sembuhkanlah gambaran yang keliru tentang Engkau dalam hatiku, agar aku datang kepada-Mu dengan sukacita. Amin.