Minggu, 21 Januari 2029
Kristus Tidak Terbagi
Di warung kopi kampung, perkara yang paling awet bukan kopinya, melainkan perdebatannya. Soal bola, soal pemilihan lurah, soal tokoh idola. Orang rela bermusuhan bertahun-tahun demi membela tokoh yang bahkan tidak mengenal nama mereka.
Ternyata penyakit itu tua sekali. Jemaat Korintus, baru beberapa tahun mengenal Injil, sudah pecah dalam golongan. Aku dari golongan Paulus. Aku dari golongan Apolos. Aku dari golongan Kefas. Bahkan ada yang memakai nama paling suci sebagai bendera golongan: aku dari golongan Kristus.
Paulus menjawab bukan dengan basa-basi, melainkan dengan tiga pertanyaan menohok. Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus? Ia sendiri disebut-sebut sebagai panutan golongan, dan justru ia yang paling keras menolak. Ia tahu, begitu nama pelayan lebih besar daripada nama Tuannya, salib mulai menjadi sia-sia.
Mengapa manusia gemar bergolongan? Karena golongan memberi rasa aman. Ada kawan, ada lawan, ada tempat berdiri. Tetapi rasa aman itu palsu, sebab dibangun dari garis pemisah, bukan dari kasih. Dan setiap garis pemisah di dalam Gereja menyayat tubuh yang sama: tubuh Kristus.
Injil hari ini memperlihatkan arah yang berlawanan. Di Galilea, wilayah campuran yang dipandang sebelah mata oleh orang pusat, Yesus menjadi terang bagi bangsa yang berjalan dalam kegelapan. Lalu Ia memanggil empat nelayan menjadi satu kelompok kecil. Kelak kelompok itu memuat pemungut cukai dan orang Zelot sekaligus, dua kutub yang di luar sana saling membenci. Di dalam Yesus, orang-orang yang mustahil rukun dijadikan saudara.
Kita perlu jujur bertanya: garis apa yang diam-diam kita tarik? Antara umat lama dan pendatang baru. Antara lingkungan yang rajin dan yang jarang muncul. Antara kelompok yang cara doanya kita anggap paling benar dan yang lain. Kita bisa fasih mengucap satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, sambil merawat sekat-sekat kecil seperti merawat pagar rumah sendiri.
Kristus tidak terbagi-bagi. Yang sering terbagi adalah kita, dan Ia terus bekerja menyatukan apa yang kita pisahkan.
Pekan ini, adakah satu sekat yang bisa mulai kita bongkar? Satu sapaan kepada orang yang bukan golongan kita mungkin sudah cukup untuk memulai.
Tuhan Yesus, Engkau satu dan tak terbagi. Sembuhkanlah kegemaranku menarik garis, dan jadikanlah aku perekat di dalam tubuh-Mu. Amin.