Sabtu, 16 Desember 2028
Nabi Bagai Api
Ada orang yang kehadirannya seperti obor. Ke mana pun ia masuk, ada yang tersulut. Sirakh melukiskan Elia begitu: "Tampillah nabi Elia bagaikan api, yang perkataannya laksana obor membakar." Kata-katanya tidak menghangatkan dengan lembut; ia membakar apa yang lapuk, menerangi apa yang gelap.
Elia dinanti-nanti. Orang percaya ia akan kembali sebelum hari Tuhan, mengembalikan hati bapa kepada anaknya. Maka murid-murid bertanya, mengapa ahli Taurat berkata Elia harus datang dahulu. Jawab Yesus mengejutkan: "Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia."
Elia yang dinanti itu ternyata Yohanes Pembaptis. Ia sudah lewat di depan mata mereka, dan mereka tidak mengenalinya. Betapa sering yang paling kita nanti-nantikan justru sudah berdiri di depan pintu, dan kita sibuk menengok ke arah lain.
Inilah bahaya Adven yang paling halus. Kita menanti Tuhan dengan gambar tertentu di kepala, sampai-sampai kita tak mengenali-Nya ketika Ia datang dengan cara yang sederhana. Bayi. Tetangga. Orang yang perlu ditolong. Kita menyiapkan sambutan yang meriah di pintu depan, sementara Ia diam-diam mengetuk di pintu belakang.
Adakah Elia yang Tuhan kirim ke dalam hidupku, yang belum kukenali karena bukan seperti yang kubayangkan?
Tuhan, bukalah mataku agar mengenali utusan-utusan-Mu, dan sulutlah hatiku dengan api sabda-Mu yang memurnikan. Amin.