Jumat, 15 Desember 2028
Anak-anak di Pasar
Siapa yang pernah menonton anak-anak bermain di pasar tahu betapa cepat suasana hati mereka berubah. Sebentar mengajak main pesta, sebentar main kematian. Dan selalu ada satu dua yang tidak mau ikut apa pun. "Kami meniup seruling, tetapi kamu tidak menari; kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung."
Kemarin Yesus memuji Yohanes Pembaptis. Hari ini Ia menyindir mereka yang tak puas, baik terhadap Yohanes maupun terhadap diri-Nya. Yohanes datang berpuasa, mereka bilang ia kerasukan. Anak Manusia datang makan dan minum, mereka bilang Ia pelahap. Apa pun yang dilakukan, selalu salah. Sebab masalahnya bukan pada utusan, melainkan pada hati yang sudah memutuskan untuk tidak mau.
Betapa mudahnya menjadi anak yang menolak menari dan menolak berkabung. Selalu ada alasan untuk tidak percaya. Terlalu keras, kita mengeluh. Terlalu lembut, kita mencibir. Tuhan tak pernah bisa datang dengan cara yang pas menurut selera kita.
Yesaya menawarkan jalan lain, andai kita mau mendengar: "Sekiranya engkau memperhatikan perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering." Damai itu tersedia. Yang kurang bukan tawaran Allah, melainkan kesediaan kita menyambut.
Adakah cara Tuhan menyapaku yang selama ini kutolak hanya karena tak sesuai seleraku?
Tuhan, lembutkanlah hatiku yang cepat mencari alasan untuk menolak. Ajarilah aku menari saat Kau meniup seruling, dan percaya pada damai-Mu yang mengalir seperti sungai. Amin.