Jumat, 8 Desember 2028
Perempuan yang Utuh
Setiap kali seorang bayi lahir, ada satu pertanyaan diam yang menyertai sukacita: dunia macam apa yang akan ia warisi? Sebab tidak ada anak yang lahir di ruang hampa. Ia mewarisi bahasa, luka, dosa, dan sejarah orang-orang sebelumnya. Tidak ada yang mulai dari nol.
Kecuali satu. Hari ini Gereja merayakan Santa Perawan Maria yang Dikandung Tanpa Noda. Ajaran ini kerap disalahpahami seolah tentang bagaimana Yesus dikandung. Bukan. Ini tentang awal hidup Maria sendiri: sejak saat pertama keberadaannya, ia dijaga bebas dari dosa asal, disiapkan menjadi kediaman yang pantas bagi Putra Allah.
Bacaan pertama membawa kita jauh ke belakang, ke taman itu. Adam bersembunyi, lalu menuding, "perempuan yang Kautempatkan di sisiku". Dosa selalu berakhir dengan telunjuk yang menunjuk orang lain. Tetapi di tengah kutuk itu terselip janji: keturunan perempuan akan meremukkan kepala ular. Sejak Kejadian, Allah sudah menyiapkan seorang perempuan yang jawabannya akan membalik jawaban Hawa.
Dan jawaban itu datang di Nazaret. Kepada Maria yang terkejut, malaikat berkata, "Jangan takut, sebab engkau beroleh kasih karunia." Maria tidak menuding siapa pun. Ia bertanya jujur, "Bagaimana hal itu mungkin terjadi?" lalu menyerahkan diri: "Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu."
Paulus menolong kita memahami maknanya bagi kita sendiri. "Di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya." Apa yang penuh dalam diri Maria adalah panggilan yang juga ditujukan kepada kita, meski melalui jalan yang berbeda. Ia buah sulung dari kekudusan yang dijanjikan bagi seluruh umat.
Maka pesta hari ini bukan tentang seorang perempuan yang begitu tinggi sampai tak tergapai. Ia justru menjadi tanda bahwa kekudusan itu mungkin, bahwa rahmat bisa menang atas dosa sejak saat yang paling awal. Yang penuh dalam diri Maria adalah janji tentang ke mana kita semua sedang diarahkan.
Maria bukan sekadar teladan yang jauh dan sempurna sehingga mustahil ditiru. Ia bukti bahwa rahmat Allah sanggup membuat manusia utuh. Bila Allah bisa menjaga satu perempuan tetap penuh sejak awal, mungkinkah kita masih terlalu cepat berkata bahwa diri kita sudah terlanjur rusak untuk diperbaiki?
Tuhan, Engkau memilih kami sebelum dunia dijadikan. Melalui teladan Bunda Maria yang berkata jadilah, ajarilah kami percaya bahwa rahmat-Mu sanggup memulihkan yang kami kira sudah terlanjur. Amin.