Jumat, 24 November 2028
Manis di Mulut, Pahit di Perut
Orang yang pernah minum jamu brotowali tahu bahwa pahit itu ada tingkatannya. Tetapi para penjual jamu selalu berkata sama: justru yang pahit itulah yang menyembuhkan. Yang manis-manis biasanya hanya pelengkap.
Yohanes hari ini menerima perintah yang ganjil: ambillah gulungan kitab itu dan makanlah. Di mulut, kitab itu manis seperti madu; sesudah ditelan, perutnya menjadi pahit. Lalu ia diutus bernubuat kepada banyak bangsa dan kaum dan raja. Firman Allah memang begitu: manis ketika didengar, pahit ketika dijalani. Manis waktu dibaca di ruang doa yang tenang, pahit waktu menuntut kita jujur, mengampuni, atau berdiri melawan arus.
Andreas Dung Lac dan kawan-kawannya, para martir Vietnam yang kita kenang hari ini, menelan firman itu sampai ke pahit-pahitnya. Imam dan awam, tua dan muda, menghadapi penjara, siksaan, dan pedang dalam masa penganiayaan yang panjang. Mereka tidak berhenti pada manisnya madu; mereka membiarkan firman bekerja sampai tuntas dalam tubuh mereka.
Kita mudah memilih-milih: menelan ayat yang menghibur, menyisihkan ayat yang menuntut. Padahal, seperti jamu, justru yang pahit itulah yang menyembuhkan.
Tuhan, berilah aku keberanian menelan firman-Mu seutuhnya, yang manis maupun yang pahit. Amin.