Kamis, 23 November 2028
Tangis di Atas Bukit
Ada dua tangisan dalam bacaan hari ini, dan keduanya bukan tangisan sembarangan.
Yang pertama tangisan Yohanes di hadapan takhta surga. Ia melihat gulungan kitab yang dimeterai tujuh, dan tidak seorang pun di surga atau di bumi dianggap layak membukanya. Maka menangislah ia dengan amat sedihnya. Gulungan itu ibarat makna sejarah: kalau tidak ada yang sanggup membukanya, segala derita dunia tinggal teka-teki tanpa jawaban. Tangis itu dijawab seorang tua-tua: jangan engkau menangis, singa dari suku Yehuda telah menang. Dan yang tampil ternyata bukan singa yang garang, melainkan Anak Domba yang seperti telah disembelih. Sejarah dibuka bukan oleh yang perkasa, melainkan oleh yang terluka.
Yang kedua tangisan Yesus sendiri. Dari ketinggian, memandang Yerusalem yang berkilau, Ia menangisinya: wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu. Kota itu tidak mengetahui saat Allah melawat dirinya.
Allah kita bukan penonton yang menilai dari kejauhan. Ia menangisi kota kita, lalu masuk ke dalamnya, sampai mati di tengahnya. Tinggal satu pertanyaan untuk kita: ketika Ia melawat hari ini, lewat teguran, lewat peristiwa, lewat orang di depan kita, apakah kita mengenali-Nya?
Tuhan, bukalah mataku, agar aku mengenali saat Engkau melawat hidupku. Amin.