‹ Semua renungan

Rabu, 22 November 2028

Nyanyian yang Tidak Berhenti

Ibu-ibu koor di lingkungan bisa berlatih berminggu-minggu demi lagu tiga menit pada misa hari Minggu. Suara serak, pulang malam, kadang hanya mendapat ucapan terima kasih. Untuk apa? Jawaban mereka biasanya sederhana: untuk Tuhan.

Kitab Wahyu hari ini menyingkap sesuatu yang membesarkan hati para penyanyi. Di surga ada nyanyian yang tidak pernah berhenti. Keempat makhluk berseru siang dan malam: kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah Yang Mahakuasa. Dan dua puluh empat tua-tua tersungkur sambil melemparkan mahkota mereka di hadapan takhta. Setiap kali kita bernyanyi dalam liturgi, kita sedang menumpang pada nyanyian abadi itu. Koor kecil di kampung adalah cabang dari paduan suara surga.

Hari ini Gereja mengenang Sesilia, martir Roma yang menjadi pelindung para pemusik. Kisah kunonya menuturkan, di tengah hingar bingar pesta pernikahannya, ia bernyanyi bagi Tuhan di dalam hatinya. Di dalam hati. Musik yang paling sejati rupanya bukan urusan pita suara, melainkan urusan hati yang menyembah. Dan nyanyian semacam itu tidak bisa dibungkam, bahkan oleh pedang.

Suara kita mungkin sumbang. Tidak apa-apa. Yang didengarkan Allah bukan nadanya, melainkan arah hatinya.

Tuhan, jadikanlah seluruh hidupku satu nada kecil dalam nyanyian-Mu yang tidak pernah berhenti. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →