‹ Semua renungan

Selasa, 21 November 2028

Ketukan di Pintu

Teh yang dibiarkan sejam di atas meja punya nasib yang tanggung: tidak panas, tidak dingin. Suam-suam kuku. Diminum tidak menyegarkan, dihirup tidak menghangatkan. Kepada jemaat Laodikia yang seperti itulah kalimat paling keras dalam kitab Wahyu dialamatkan: karena engkau suam-suam kuku, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.

Tetapi jangan berhenti di situ. Kepada jemaat yang paling hambar itu justru diberikan gambaran yang paling mesra: lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang membukakan pintu, Aku akan masuk dan makan bersama-sama dengan dia. Ia tidak mendobrak. Ia mengetuk, lalu menunggu.

Di Yerikho, Zakheus mengalami ketukan itu dengan cara yang mengejutkan: Yesus sendiri yang meminta diri, hari ini Aku harus menumpang di rumahmu. Rumah seorang pendosa dibuka lebar, dan keselamatan masuk bersama tamunya.

Hari ini Gereja mengenangkan Santa Perawan Maria yang dipersembahkan kepada Allah. Sejak kecil hidupnya terbuka sepenuhnya bagi Tuhan, sampai kelak rahimnya sendiri menjadi rumah bagi Allah. Pintu yang tidak pernah dikunci dari dalam. Bagaimana dengan pintu hati kita: terkunci, terbuka, atau sekadar suam, tidak menolak tetapi tidak juga membukakan?

Yesus, Engkau berdiri mengetuk. Hari ini aku membuka pintu; masuklah dan tinggallah bersamaku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →