Senin, 20 November 2028
Kasih yang Semula
Pasangan yang sudah lama menikah biasanya masih memiliki semuanya: rumah, anak, rutinitas, tanggung jawab yang berjalan rapi. Yang kadang hilang justru yang paling tidak kelihatan: getaran masa awal, ketika surat pendek dibaca berulang-ulang dan perjalanan pulang sengaja diperlambat.
Jemaat Efesus mirip seperti itu. Rapornya nyaris sempurna: rajin, tekun, tahan menderita, teliti menguji rasul-rasul palsu, tidak mengenal lelah. Tetapi Kristus yang berjalan di antara kaki dian itu melihat satu hal yang luput dari laporan: engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Mesinnya masih berputar; apinya sudah padam. Pelayanan jalan terus, cintanya berhenti diam-diam.
Obatnya diberikan dalam tiga kata kerja: ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh, bertobatlah, dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Cinta yang mendingin tidak dihangatkan dengan penyesalan panjang, melainkan dengan mengulangi perbuatan-perbuatan yang pertama.
Pengemis buta di dekat Yerikho justru memperlihatkan kasih yang semula itu. Baru mendengar Yesus lewat, seluruh dirinya berteriak: Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku! Ditegur agar diam, ia makin keras berseru. Kapan terakhir kali kita berseru kepada Yesus sekeras itu?
Tuhan, nyalakanlah kembali dalam hatiku kasih yang semula. Amin.