‹ Semua renungan

Minggu, 19 November 2028

Matahari yang Sama

Pukul sebelas siang, matahari yang sama menyinari dua tempat. Di halaman rumah, gabah petani mengering sempurna, siap digiling. Di ladang sebelah, jerami sisa panen meranggas kering, tinggal menunggu satu percikan untuk terbakar habis. Mataharinya tidak berubah. Keadaan yang disinarinyalah yang menentukan.

Nabi Maleakhi berbicara tentang hari Tuhan persis seperti itu. Bagi orang gegabah dan fasik, hari itu menyala seperti perapian yang melalap jerami sampai ke akarnya. Tetapi bagi kamu yang takut akan nama-Ku, akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Hari yang sama, matahari yang sama, dua akibat yang bertolak belakang. Yang menentukan bukan kapan hari itu datang, melainkan menjadi apa kita ketika hari itu datang. Dan alangkah segar janjinya: kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang.

Dalam Injil, orang-orang sedang mengagumi Bait Allah: batunya yang indah, persembahannya yang megah. Yesus menjawab dengan dingin: tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain. Lalu Ia menyebut peperangan, gempa, penyakit, penganiayaan. Bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk melucuti dua godaan sekaligus: godaan bersandar pada yang tampak megah, dan godaan panik mengikuti orang-orang yang berteriak saatnya sudah dekat.

Lalu bagaimana cara yang benar menantikan Tuhan? Minggu lalu kita mendengar Paulus mendoakan penghiburan abadi bagi jemaat Tesalonika. Hari ini nasihatnya membumi sekali: ikutilah teladan kami yang berjerih payah siang malam; jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Rupanya di Tesalonika ada orang yang berhenti bekerja karena yakin dunia segera berakhir, lalu sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. Paulus menegur mereka dengan tenang: kembalilah bekerja. Menantikan Tuhan bukan dengan menatap langit, melainkan dengan tetap mencangkul, memasak, mengajar, dan jujur di pekerjaan masing-masing.

Kalimat Yesus menutup semuanya seperti genggaman tangan di tengah guncangan: kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu. Bukan yang paling pandai membaca tanda-tanda zaman yang selamat, melainkan yang bertahan setia sampai akhir.

Tuhan, jadikan aku gabah yang siap di bawah matahari-Mu, bukan jerami yang kering. Ajarilah aku bertahan. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →