Sabtu, 25 November 2028
Tunas dari Tunggul
Tebanglah sebatang pohon sampai rata tanah, lalu tunggulah satu musim hujan. Dari tunggul yang tampak mati itu sering muncul tunas hijau, segar, seolah mengejek gergaji. Orang Jawa punya kata untuknya: trubus.
Kitab Wahyu hari ini menceritakan dua saksi Allah yang dibunuh oleh binatang dari jurang maut. Mayat mereka dibiarkan tergeletak di jalan raya kota besar, dan penduduk bumi bergembira, berpesta, bahkan saling mengirim hadiah. Kesaksian itu tampak tamat; kebenaran kalah telak, dan dunia merayakannya. Tetapi tiga setengah hari kemudian, roh kehidupan dari Allah masuk ke dalam mereka. Mereka bangkit berdiri, dan semua yang tadinya berpesta menjadi sangat takut.
Itulah pola yang terus berulang dalam sejarah iman. Kesaksian yang benar bisa dibungkam, ditertawakan, bahkan dikuburkan. Tetapi ia tidak bisa dimatikan. Ia trubus lagi.
Dalam Injil, Yesus menegaskan sumber kepastian itu di hadapan orang Saduki: Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Selama Allah hidup, tidak ada kebenaran dan tidak ada orang benar yang riwayatnya berakhir di tunggul.
Allah yang hidup, kuatkanlah aku untuk tetap bersaksi, sekalipun untuk sementara tampak kalah. Amin.