‹ Semua renungan

Minggu, 26 November 2028

Papan Nama Sang Raja

Setiap jabatan punya papan nama. Di meja kepala kantor ada balok kayu berukir nama dan gelar. Di pintu ruangan, papan kuningan mengilap. Makin tinggi jabatannya, makin megah papannya. Manusia memang perlu menuliskan kuasanya supaya dilihat orang.

Hari ini, pada penutup tahun liturgi, Gereja merayakan Kristus Raja Semesta Alam. Dan Injil yang dipilih untuk pesta seagung ini ternyata bukan kisah kemenangan, melainkan Kalvari. Di sana pun ada papan nama jabatan, dipaku di atas kepala yang tertunduk: Inilah raja orang Yahudi. Pilatus memasangnya sebagai ejekan. Surga membacanya sebagai kebenaran. Takhta-Nya kayu kasar, mahkota-Nya duri, dan pengawal-Nya para prajurit yang mengolok-olok.

Raja macam apa ini? Bacaan pertama memberikan kuncinya. Ketika Daud diurapi di Hebron, tugasnya dirumuskan bukan dengan kata memerintah, melainkan: engkaulah yang harus menggembalakan umat-Ku Israel. Raja menurut hati Allah adalah gembala, dan gembala yang baik memberikan nyawanya bagi kawanannya. Di salib, rumusan itu digenapi sampai tetes darah yang terakhir.

Paulus menyingkap ukuran sesungguhnya dari Raja yang tampak kalah itu: Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia; dan oleh darah salib-Nya, Allah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya. Alam semesta yang kita pandangi setiap malam berdiri di dalam Dia yang tergantung sore itu.

Menariknya, dari semua yang hadir di Kalvari, hanya satu orang yang membaca papan nama itu dengan iman: seorang penjahat yang ikut disalibkan. Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja. Permohonan pendek dari orang yang tidak sempat lagi berbuat baik apa pun. Dan jawaban-Nya menjadi keputusan kerajaan tercepat dalam sejarah: hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.

Tahun liturgi ditutup dengan pertanyaan yang sunyi: kalau Kristus sungguh Raja, siapa yang selama ini bertakhta atas keputusan-keputusan kita? Kepada Raja yang seperti ini, menyerah bukanlah kekalahan. Menyerah adalah pulang.

Yesus, Raja yang tersalib, ingatlah akan aku, dan bertakhtalah dalam hatiku mulai hari ini. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →