Senin, 27 November 2028
Dua Keping Receh
Nasib uang receh sering menyedihkan. Tergeletak di laci, menggelinding ke kolong lemari, di warung pun kadang diganti permen karena dianggap tidak berarti. Padahal receh tetaplah uang. Hanya saja, siapa yang mau menunduk untuk memungutnya?
Di Bait Allah, Yesus mengangkat muka-Nya, dan yang dipandang-Nya justru hal yang tidak dipandang siapa pun: seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti persembahan. Dua keping receh, nyaris tanpa nilai tukar. Di sekelilingnya, orang-orang kaya memasukkan persembahan besar yang jatuhnya pun berdenting nyaring.
Lalu keluarlah matematika Kerajaan yang membalik semua pembukuan: janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu. Bagaimana bisa? Karena mereka memberi dari kelimpahannya, sedangkan ia memberi dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkahnya. Allah rupanya tidak menghitung yang keluar dari dompet, melainkan yang masih tersisa di dalamnya. Orang lain menyisihkan; janda itu menyerahkan.
Kita tidak diminta memiskinkan diri secara gegabah. Kita diajak memeriksa cara kita memberi, kepada Tuhan maupun sesama: selama ini kita memberi sisa, atau memberi diri?
Tuhan, terimalah dua peserku hari ini: waktuku, tenagaku, dan kepercayaanku, seluruhnya. Amin.