‹ Semua renungan

Minggu, 22 Oktober 2028

Tangan yang Ditopang

Cobalah mengangkat kedua tangan lurus ke atas selama beberapa menit saja, misalnya waktu mengecat langit-langit. Mula-mula ringan, lalu bahu mulai panas, lengan bergetar, dan akhirnya tangan turun sendiri tanpa bisa ditahan. Tidak ada orang yang sanggup mengangkat tangannya sendirian dalam waktu lama.

Bacaan pertama hari ini melukiskan pemandangan yang persis begitu. Di lembah, Yosua berperang melawan Amalek. Di puncak bukit, Musa berdiri mengangkat tangannya. Terjadilah keajaiban yang aneh: selama tangan Musa terangkat, Israel unggul; begitu tangannya turun, Amalek yang menang. Doa yang terangkat itu menentukan jalannya pertempuran.

Tetapi Musa hanyalah manusia. Tangannya pun penat. Dan di sinilah letak inti kisah ini. Musa tidak berhasil karena kekuatannya sendiri. Harun dan Hur mengambil sebuah batu untuk tempatnya duduk, lalu menopang kedua tangannya, seorang di kiri, seorang di kanan, sampai matahari terbenam. Karena tangan Musa ditopang, Israel menang.

Ini gambaran doa yang jujur dan melegakan. Tidak ada orang yang sanggup terus berdoa sendirian tanpa lelah. Iman kita pun ada masa penatnya, ketika tangan rasanya jatuh dan kata-kata habis. Justru di situ kita saling membutuhkan. Ada saat kita menjadi Musa yang lemah, dan ada saat kita dipanggil menjadi Harun dan Hur bagi orang lain, menopang tangan yang mulai turun. Orang Jawa menyebut semangat menanggung bersama itu sambung sinambung, bergilir saling menyambung beban. Doa memang bukan olahraga tunggal.

Injil hari ini melanjutkan tema yang sama dari sisi lain. Yesus bercerita tentang seorang janda yang tak jemu-jemu datang kepada hakim yang lalim, mengetuk terus sampai ia dibenarkan. Kalau hakim yang jahat pun akhirnya luluh oleh kegigihan, apalagi Allah yang mahabaik. Ia akan membela orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya.

Namun perhatikan kalimat penutup Yesus yang mengejutkan: ketika Anak Manusia datang, adakah Ia mendapati iman di bumi? Rupanya soalnya bukan apakah Allah menjawab, melainkan apakah kita bertahan cukup lama untuk masih berdoa saat jawaban belum kelihatan. Paulus menasihati Timotius dengan roh yang sama: beritakanlah firman, baik atau tidak baik waktunya, dengan segala kesabaran. Bertekunlah.

Doa yang tekun memang melelahkan, dan itu wajar. Yang keliru bukan lelahnya, melainkan bila kita menyerah dan menurunkan tangan sendirian, padahal ada saudara yang siap menopang, dan ada Bapa yang tidak pernah mengantuk.

Pekan ini, tangan siapa yang sedang penat dan menunggu kita topang dalam doa? Dan maukah kita membiarkan tangan kita sendiri ditopang orang lain?

Tuhan, ketika tanganku penat berdoa, kirimkanlah Harun dan Hur bagiku, dan jadikanlah aku penopang bagi mereka yang lelah. Sungguh, jangan biarkan iman itu habis sebelum Engkau datang. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →