Senin, 23 Oktober 2028
Berbicara dengan Diri Sendiri
Ada satu tanda halus bahwa seseorang mulai terkurung dalam dunianya sendiri: ia banyak berbicara, tetapi hanya kepada dirinya. Rencana disusun sendiri, keuntungan dihitung sendiri, masa depan dibayangkan sendiri. Orang lain menghilang dari percakapan, dan Tuhan tidak pernah disebut.
Perhatikan monolog orang kaya dalam perumpamaan hari ini. Tanahnya berlimpah hasil, dan ia bertanya dalam hatinya sendiri: apa yang harus aku perbuat? Lalu ia menjawab dirinya sendiri: aku akan merombak lumbungku, mendirikan yang lebih besar, menyimpan segala milikku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku, beristirahatlah, makanlah, bersenang-senanglah. Kata 'aku' dan 'ku' muncul berulang-ulang. Tidak sekali pun ada nama Allah, tidak sekali pun ada sesama.
Itulah bahaya kelimpahan yang jarang kita sadari. Ia tidak selalu membuat orang jahat secara terang-terangan. Ia cukup membuat orang bercakap-cakap hanya dengan dirinya sendiri, sampai lupa bahwa hidupnya bukan miliknya. Maka firman Allah memotong monolog itu dengan tajam: hai engkau orang bodoh, malam ini juga jiwamu akan diambil, dan segala yang kausiapkan, untuk siapakah nanti?
Ia menyebut jiwa itu 'jiwaku', seolah miliknya sendiri. Padahal jiwa itu pinjaman, dan malam itu ditagih kembali.
Paulus mengingatkan bahwa kita diselamatkan bukan oleh usaha kita, melainkan oleh kasih karunia. Bahkan hidup kita pun pemberian, bukan hasil kerja yang boleh kita banggakan sendirian.
Hari ini, dalam percakapan batin kita tentang masa depan, adakah nama Allah dan wajah sesama, atau tinggal 'aku' yang berbicara kepada 'aku'?
Tuhan, robohkan lumbung kesendirianku, dan ingatkan bahwa hidupku ini milik-Mu, untuk kubagi. Amin.