‹ Semua renungan

Selasa, 24 Oktober 2028

Tembok yang Dirobohkan

Di antara dua rumah yang bertetangga kadang berdiri tembok tinggi. Awalnya mungkin hanya batas tanah. Tetapi lama-lama tembok itu menjadi lambang: dua keluarga yang tak lagi bertegur sapa, saling curiga, saling membelakangi. Selama tembok berdiri, keduanya sama-sama terpenjara di halaman sendiri.

Paulus melukiskan keadaan manusia dengan gambaran tembok itu. Dahulu, katanya kepada jemaat Efesus, kamu yang bukan Yahudi berada 'jauh', tanpa pengharapan, tanpa Allah di dunia. Ada tembok pemisah yang berdiri kokoh, tembok perseteruan antara bangsa-bangsa, dan lebih dalam lagi, antara manusia dan Allah.

Lalu datang kalimat yang menjadi inti kabar baik: tetapi sekarang, di dalam Kristus Yesus, kamu yang dahulu 'jauh' sudah menjadi 'dekat' oleh darah Kristus. Sebab Dialah damai sejahtera kita, yang telah merobohkan tembok pemisah itu. Damai yang dibawa Yesus bukan sekadar gencatan senjata, bukan dua pihak yang berhenti berperang tetapi tetap saling membelakangi di balik tembok masing-masing. Damai-Nya adalah tembok yang benar-benar dirubuhkan, sampai dua pihak menjadi satu.

Sering damai yang kita cari hanya setipis gencatan senjata: yang penting tidak ribut, meski hati masih penuh sekat. Kristus menawarkan lebih: rekonsiliasi yang meruntuhkan dinding, bukan sekadar menurunkan suara.

Dalam Injil, Yesus menggambarkan hamba yang berjaga-jaga menanti tuannya pulang, dengan pinggang berikat dan pelita menyala. Menanti Dia berarti bersiap menyambut Sang Perobek tembok.

Tembok mana dalam hidup kita yang selama ini hanya kita turunkan suaranya, padahal Kristus ingin merobohkannya sampai ke dasar?

Tuhan, robohkanlah tembok perseteruan dalam hatiku, dan jadikanlah aku pembawa damai yang mempersatukan. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →