Sabtu, 21 Oktober 2028
Mata Hati yang Terang
Dua orang bisa berdiri memandang matahari terbenam yang sama. Yang satu hanya melihat langit jingga, lalu sibuk kembali dengan urusannya. Yang lain diam terpaku, matanya berkaca-kaca, seakan menangkap sesuatu yang tak terucapkan. Pemandangannya sama, tetapi ada mata lain yang bekerja di balik mata biasa.
Paulus mendoakan sesuatu yang persis seperti itu untuk jemaat Efesus. Ia tidak berdoa supaya mata mereka sehat, melainkan supaya, katanya, mata hatimu menjadi terang. Ada penglihatan yang lebih dalam daripada penglihatan mata. Dengan mata itu orang bisa melihat pengharapan yang terkandung dalam panggilannya, dan betapa hebat kuasa Allah bagi mereka yang percaya.
Sebab banyak hal penting memang tidak tertangkap mata biasa. Kasih tidak kelihatan, hanya buahnya. Pengharapan tidak berwujud, tetapi menggerakkan orang bertahan. Kuasa kebangkitan tidak bisa difoto, tetapi mengubah orang dari takut menjadi berani. Semua itu butuh mata hati yang diterangi.
Masalahnya, mata hati bisa juga meredup, tertutup kesibukan, kekhawatiran, atau kekecewaan. Kita masih melihat, tetapi tidak lagi memandang. Dunia terasa datar, dan Tuhan terasa jauh, bukan karena Ia pergi, melainkan karena lampu batin kita tinggal remang.
Dalam Injil, Yesus menjanjikan Roh Kudus yang akan mengajar kita apa yang harus dikatakan pada saat sulit. Roh yang sama itulah yang menerangi mata hati kita.
Adakah karya Tuhan di sekitar kita hari ini yang terlewat, semata-mata karena mata hati sedang redup?
Tuhan, terangilah mata hatiku, supaya aku memandang, bukan sekadar melihat. Amin.