Jumat, 20 Oktober 2028
Harga Seekor Pipit
Burung pipit adalah makhluk yang paling tidak diperhitungkan. Ia berkeliaran di pasar dan pekarangan, dijual murah, lima ekor dua duit. Tidak ada yang menangisi seekor pipit yang jatuh. Ia terlalu kecil, terlalu banyak, terlalu biasa untuk dianggap penting.
Justru burung remeh itu yang dipilih Yesus untuk mengajar tentang nilai. Bukankah lima ekor pipit dijual dua duit? Sungguhpun demikian, kata-Nya, tidak seekor pun dilupakan Allah. Bahkan rambut kepalamu terhitung semuanya. Maka jangan takut; kamu jauh lebih berharga daripada banyak burung pipit.
Ada dua penghiburan sekaligus di sini. Pertama, tidak ada yang terlalu kecil bagi perhatian Allah. Kalau seekor pipit yang jatuh saja Ia perhatikan, apalagi kita. Kedua, kalau rambut yang rontok tanpa kita sadari saja terhitung, tidak ada satu pun air mata kita yang lolos dari perhitungan-Nya.
Yesus mengucapkan ini untuk menepis rasa takut para murid menghadapi tekanan dan ancaman. Rasa takut sering lahir dari perasaan sendirian dan tak diperhatikan. Obatnya bukan menjadi lebih besar, melainkan menyadari bahwa kita sudah diperhatikan sampai ke helai rambut.
Paulus menyebut Roh Kudus sebagai jaminan, semacam meterai yang menandai bahwa kita sungguh milik Allah. Kita bukan pipit yang tercecer tanpa pemilik.
Hari ini, ketakutan apa yang bersumber dari perasaan bahwa hidup kita terlalu kecil untuk diperhatikan?
Tuhan, ketika aku merasa remeh dan terlupakan, ingatkanlah bahwa Engkau menghitung bahkan rambut kepalaku. Amin.