Kamis, 19 Oktober 2028
Dipilih Sebelum Ada
Jauh sebelum seorang bayi lahir, kamarnya sudah disiapkan. Namanya dipikirkan berhari-hari, kadang berdebat penuh kasih di meja makan. Ada baju kecil yang dibeli, ada doa yang dipanjatkan. Anak itu belum bisa berbuat apa-apa, bahkan belum ada, tetapi ia sudah dinanti dan sudah dikasihi.
Paulus membuka suratnya kepada jemaat Efesus dengan kalimat yang membuat kita tertegun: di dalam Kristus, Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercela di hadapan-Nya. Sebelum dunia dijadikan. Artinya keberadaan kita bukan kebetulan, bukan hasil undian nasib. Sebelum gunung ada, sebelum laut terbentang, kita sudah ada dalam pikiran kasih Allah.
Ini menyembuhkan luka yang diam-diam banyak orang bawa: perasaan tidak diinginkan, kebetulan, salah tempat. Kabar dari Efesus berlawanan dengan itu. Kita bukan tambahan yang tak sengaja, melainkan yang dipilih, ditentukan dalam kasih untuk menjadi anak-anak-Nya.
Dan semua itu, kata Paulus, mengarah pada satu tujuan: pada kegenapan waktu, mempersatukan segala sesuatu di dalam Kristus, baik yang di surga maupun yang di bumi. Kita bukan hanya dipilih untuk diselamatkan sendiri-sendiri, melainkan untuk disatukan.
Sering kita memandang diri dari kegagalan hari ini, lalu merasa tak berharga. Efesus mengajak memandang dari titik yang jauh lebih awal: kita sudah dikasihi bahkan sebelum kita bisa mengecewakan siapa pun.
Tuhan, terima kasih telah memilih dan menghendaki aku sejak sebelum dunia dijadikan. Hidupkanlah aku sepadan dengan kasih itu. Amin.