Rabu, 18 Oktober 2028
Hanya Lukas yang Tinggal
Sahabat sejati baru ketahuan bukan di pesta, melainkan di ruang tunggu rumah sakit dan di ruang tahanan. Saat semua alasan untuk pergi terasa masuk akal, orang yang tetap tinggal itulah yang namanya kita kenang seumur hidup.
Hari ini Gereja merayakan Santo Lukas, penginjil yang juga seorang tabib. Dan bacaan hari ini memuat satu kalimat yang mengharukan dari mulut Paulus di penjara: Demas telah meninggalkan aku karena mencintai dunia ini. Yang ini pergi ke sana, yang itu pergi ke situ. Lalu satu baris yang sederhana tetapi hangat: Hanya Lukas yang tinggal dengan aku.
Bayangkan situasinya. Paulus tua, dibelenggu, menanti hukuman. Satu per satu rekan pelayanannya menjauh, entah karena takut, lelah, atau tergoda kenyamanan. Di tengah kesepian itu, ada satu orang yang tidak beranjak. Bukan orang yang paling menonjol, bukan pengkhotbah yang paling ramai. Seorang tabib yang setia menemani, merawat, dan mencatat.
Justru dari tangan Lukas yang setia inilah lahir Injil ketiga dan Kisah Para Rasul, yang kita baca sampai hari ini. Kesetiaannya yang sunyi ternyata menjadi berkat bagi seluruh Gereja sepanjang zaman.
Dalam Injil, Yesus mengutus para murid dengan pesan: tinggallah dalam rumah itu, jangan berpindah-pindah. Kesetiaan yang tekun lebih berharga daripada semangat yang cepat berpindah.
Kepada siapa hari ini Tuhan memanggil kita untuk sekadar tinggal dan setia menemani, tanpa perlu terlihat hebat?
Tuhan, jadikanlah aku sahabat yang tetap tinggal, terutama ketika yang lain memilih pergi. Amin.