‹ Semua renungan

Rabu, 20 September 2028

Gong yang Kosong

Gong dipukul, suaranya memenuhi ruangan, lalu habis. Tidak meninggalkan apa-apa selain dengung yang makin tipis. Kemarin Paulus menutup uraiannya dengan janji: aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama. Hari ini jalan itu dibentangkan, dan pembukanya justru bunyi gong tadi: sekalipun aku berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan malaikat, tetapi tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang.

Madah kasih ini sering dibacakan di pesta pernikahan, padahal aslinya ditulis untuk jemaat yang sedang bertengkar memperebutkan karunia paling hebat. Jawaban Paulus merendahkan semua kehebatan: nubuat akan berakhir, pengetahuan akan lenyap; kasih tidak berkesudahan. Dan kasih yang ia maksud bukan perasaan melayang, melainkan daftar kerja: sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan orang lain.

Hari ini Gereja mengenang Andreas Kim Taegon, imam pertama Korea, bersama para kudus martir Korea. Gereja di sana unik: ia lahir dari kaum awam yang menemukan iman lewat buku, jauh sebelum misionaris tiba. Andreas dipenggal pada usia dua puluh lima tahun. Menyerahkan tubuh untuk dibakar pun tanpa kasih tidak berguna, tulis Paulus; para martir Korea memberikan keduanya, nyawa dan kasih.

Dari daftar kerja kasih itu, butir mana yang paling sering kosong dalam hidup kita?

Tuhan, jangan biarkan hidupku nyaring seperti gong; isilah dengan kasih-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →