Minggu, 3 September 2028
Kursi Paling Belakang
Di hajatan kampung, kursi punya bahasa. Deretan depan berlapis kain putih, disediakan untuk pejabat dan sesepuh. Tamu biasa tahu diri, mencari tempat di belakang, dekat pintu. Sesekali terjadi drama kecil: seseorang telanjur duduk di depan, lalu panitia datang berbisik, memintanya bergeser karena kursi itu untuk orang lain. Semua mata menonton. Malunya bisa dibawa pulang berminggu-minggu.
Rupanya pemandangan seperti itu sudah ada sejak zaman Yesus. Di rumah seorang Farisi, Ia mengamati para tamu berebut tempat kehormatan. Minggu lalu kita mendengar sabda-Nya tentang orang terakhir yang menjadi terdahulu; hari ini Ia melanjutkannya di meja makan: kalau engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah.
Ini bukan siasat sosial. Yesus tidak sedang mengajarkan cara halus untuk naik kelas, seolah kursi belakang hanyalah jalan memutar menuju kursi depan. Ia sedang membuka rahasia hati Allah, yang sudah dibisikkan Sirakh berabad-abad sebelumnya: makin besar engkau, makin patut kaurendahkan dirimu. Sebab besarlah kekuasaan Tuhan, dan oleh kaum hina-dina Ia dihormati.
Lalu Yesus menoleh kepada tuan rumah, dan nasihat-Nya makin tajam. Kalau mengadakan perjamuan, jangan undang sahabat, saudara, atau tetangga kaya; mereka bisa membalas. Undanglah orang miskin, orang cacat, orang lumpuh, orang buta, justru karena mereka tidak punya apa-apa untuk membalas.
Di sini kita tersentak. Bukankah hampir semua daftar undangan kita berlogika timbal balik? Kondangan dicatat, sumbangan diingat, kebaikan ditunggu kembaliannya. Kita jarang rugi dalam beramah-tamah, sebab semuanya berputar di antara orang yang sanggup saling membalas. Yesus mengajak keluar dari lingkaran itu: memberilah kepada yang tak mungkin mengembalikan.
Mengapa? Surat Ibrani menyingkap alasannya. Kita sendiri sudah diundang ke pesta yang mustahil kita balas: Bukit Sion, kota Allah yang hidup, kumpulan meriah beribu-ribu malaikat. Kita mendapat kursi di sana bukan karena setoran kebaikan kita, melainkan karena darah Yesus, Pengantara perjanjian baru. Kita ini tamu yang tidak sanggup membayar, yang toh tetap diberi tempat.
Maka pertanyaannya sederhana. Pekan ini, kebaikan macam apa yang berani kita berikan kepada orang yang jelas-jelas tidak akan bisa membalasnya?
Tuhan, Engkau memberiku kursi yang tak layak kududuki. Jadikanlah aku tuan rumah yang murah hati seperti Engkau. Amin.