‹ Semua renungan

Senin, 4 September 2028

Anak Yusuf Itu

Orang yang pulang kampung membawa nama besar biasanya disambut dua macam. Ada yang bangga, ada yang nyinyir: ah, dulu dia juga ingusan di sini.

Nazaret mengalami keduanya dalam hitungan menit. Mula-mula semua membenarkan Yesus dan heran akan kata-kata indah yang diucapkan-Nya. Lalu satu kalimat menggeser suasana: bukankah Ia ini anak Yusuf? Kami kenal bapak-Nya. Kami tahu rumah-Nya. Masa iya Dia istimewa?

Keakraban bisa menjadi tirai. Karena merasa sudah kenal, orang berhenti mendengar. Yesus sampai berkata tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya, dan sore itu Ia nyaris dilemparkan dari tebing oleh tetangga-tetangga-Nya sendiri.

Kita pun bisa menjadi warga Nazaret. Injil terasa terlalu akrab, urutan misa hafal di luar kepala, doa berjalan otomatis. Kata-kata yang dulu menggetarkan kini lewat begitu saja. Bukan karena firmannya berubah, melainkan karena kita merasa sudah kenal.

Paulus memberi kuncinya: ia datang kepada jemaat bukan dengan kata-kata indah, melainkan dengan keyakinan akan kekuatan Roh. Firman selalu baru bagi telinga yang membuka diri.

Adakah sabda yang tidak lagi mengejutkan kita, semata-mata karena kita merasa sudah terlalu kenal?

Tuhan, segarkanlah telingaku, supaya firman-Mu kudengar seperti pertama kali. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →