Sabtu, 26 Agustus 2028
Gelar di Undangan
Perhatikan undangan pernikahan zaman sekarang. Deretan gelar di depan dan belakang nama kadang lebih panjang daripada namanya sendiri. Kita tersenyum membacanya, tetapi diam-diam paham: semua orang ingin dipandang.
Yesus membaca penyakit yang sama pada kaum terpelajar zaman-Nya. Tali sembahyang dilebarkan, jumbai dipanjangkan, tempat terdepan diincar, sapaan Rabi dinanti-nantikan di pasar. Kemarin kita mendengar hukum yang terutama: kasih kepada Allah dan sesama. Hari ini kita melihat lawannya yang paling licin: kesalehan yang dipamerkan, agama yang berubah menjadi panggung.
Resep Yesus membalik panggung itu: "Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu." Ukuran kebesaran bukan berapa orang yang menunduk kepada kita, melainkan kepada berapa orang kita bersedia menunduk untuk melayani.
Ini bukan larangan berprestasi atau menyandang gelar. Ini soal arah. Gelar untuk melayani, atau pelayanan untuk mengejar gelar? Yang pertama membangun sesama. Yang kedua meninggikan diri, dan "barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan".
Seandainya jasa kita tidak pernah disebut siapa-siapa, masihkah kita mau mengerjakannya?
Tuhan, murnikanlah maksud hatiku, supaya yang kucari adalah Engkau dan bukan tepuk tangan. Amin.