Minggu, 27 Agustus 2028
Bukan Soal Kuota
Menjelang pengumuman sekolah favorit, pertanyaan orang tua nyaris seragam: berapa kuotanya? Berapa yang diterima tahun lalu? Seolah-olah nasib anak ditentukan oleh angka di brosur, bukan oleh belajarnya. Pertanyaan tentang kuota memang selalu lebih ringan daripada pertanyaan tentang perjuangan.
Seseorang dalam Injil hari ini bertanya dengan gaya yang sama: "Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?" Itu pertanyaan penonton, bukan peserta. Ia meminta statistik keselamatan. Dan menarik, Yesus menolak memberi angka. Jawaban-Nya memindahkan kata ganti: "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu!" Bukan berapa banyak mereka, melainkan bagaimana engkau.
Pintu itu sesak bukan karena Allah pelit. Bacaan I justru melukiskan pintu yang dibuka selebar-lebarnya: segala bangsa dan bahasa dikumpulkan, sampai ke pulau-pulau jauh yang belum pernah mendengar nama-Nya. Injil pun menegaskan: orang akan datang dari Timur dan Barat, dari Utara dan Selatan, dan duduk makan di dalam Kerajaan Allah. Pintu itu sesak karena hanya bisa dilewati tanpa bagasi: tanpa kesombongan, tanpa dosa yang terus kita peluk, tanpa status yang kita banggakan. Mereka yang mengandalkan kartu kenalan akan terkejut mendengar jawaban tuan rumah: "Aku tidak tahu dari mana kamu datang." Pernah makan semeja dan mendengar ajaran-Nya ternyata bukan jaminan. Kenal di kulit berbeda dengan kenal di hati.
Lalu seperti apa berjuang itu? Minggu lalu surat Ibrani mengajak kita berlomba dengan mata tertuju kepada Yesus. Hari ini surat yang sama melanjutkan dengan gambar seorang ayah: "Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya." Didikan memang tidak mendatangkan sukacita, melainkan dukacita, seperti latihan yang membuat otot nyeri. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai. Maka kesulitan hidup orang beriman bukan tanda ditolak. Sering kali justru tanda sedang dilatih.
Jadi pertanyaannya berubah. Bukan lagi "sedikit sajakah yang diselamatkan?", melainkan "apa yang hari ini sedang kuperjuangkan untuk masuk?" Kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah, kata surat Ibrani. Luruskanlah jalan bagi kakimu. Lalu melangkahlah ke pintu itu selagi terbuka.
Tuhan, jauhkanlah aku dari iman penonton. Latihlah aku, walau nyeri, supaya aku sanggup melewati pintu-Mu yang sesak. Amin.