Senin, 17 Juli 2028
Bukan Damai, Pedang
Ada keputusan yang justru memecah, bukan karena salah, melainkan karena benar. Seorang berhenti ikut arisan gelap keluarga, dan ia dijauhi. Seorang menolak menutupi kecurangan saudaranya, dan meja makan menjadi dingin. Kadang berpegang pada yang benar membuat kita kehilangan kehangatan yang selama ini kita nikmati.
Itu sebabnya Yesus berkata dengan keras hari ini: "Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi. Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang." Kalimat ini membingungkan, sebab bukankah Ia Raja Damai? Tetapi damai sejati kadang harus melewati perpecahan. Ketika kasih kepada Kristus ditaruh di atas segala ikatan lain, akan ada yang tersinggung, bahkan di dalam rumah sendiri.
Yesus tidak sedang menganjurkan kita membenci keluarga. Ia sedang menuntut tempat pertama. "Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku." Bukan berarti keluarga tidak dikasihi, melainkan tidak boleh menggantikan Allah di takhta hati.
Nabi Yesaya menuntut hal yang serupa dalam bentuk lain: "Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik." Kadang berhenti berbuat jahat pun memecah, sebab ada orang yang nyaman dengan kejahatan lama kita.
Adakah kebenaran yang kutunda kupilih, karena aku takut kehilangan kehangatan yang selama ini kudapat dari mengalah?
Tuhan, berilah aku keberanian menaruh Engkau di tempat pertama, walau itu memecah kenyamananku. Amin.