‹ Semua renungan

Selasa, 18 Juli 2028

Percaya, maka Teguh

Perhatikan orang yang berdiri di atas perahu untuk pertama kali. Lututnya gemetar, tangannya mencari pegangan, tubuhnya kaku. Semakin ia panik, semakin ia limbung. Tetapi begitu ia percaya bahwa lantai perahu itu menahannya, kakinya menemukan keseimbangan. Berdiri teguh ternyata bukan soal otot, melainkan soal percaya pada yang menopang.

Raja Ahas sedang gemetar. Dua raja bersekutu hendak menyerbu Yerusalem, dan hatinya goyah "seperti pohon-pohon hutan bergoyang ditiup angin". Kepadanya Yesaya membawa pesan yang berujung pada satu kalimat yang layak dihafal: "Jika kamu tidak percaya, sungguh, kamu tidak teguh jaya." Dalam bahasa aslinya, kata percaya dan kata teguh berasal dari akar yang sama, akar yang juga melahirkan kata amin. Percaya dan berdiri kokoh adalah dua sisi dari satu hal. Orang yang tidak berpegang pada Allah tidak akan pernah sungguh berdiri.

Dalam Injil, Yesus mengecam Khorazim dan Betsaida. Bukan karena mereka gemetar ketakutan, melainkan karena mereka dingin. Di depan mata mereka begitu banyak mukjizat, tetapi hati mereka tetap tidak percaya, maka tetap tidak teguh.

Kita mudah mengira keteguhan datang dari mengumpulkan cukup jaminan: cukup tabungan, cukup dukungan, cukup rencana cadangan. Ahas pun begitu, ia lebih percaya pada persekutuan politik daripada pada Allah.

Ketika hatiku gemetar pekan ini, aku mencari pegangan pada apa, dan sudahkah aku berpegang pada Dia yang sungguh menopang?

Tuhan, aku percaya, maka teguhkanlah aku. Jadilah lantai yang menahan kakiku ketika segala sesuatu bergoyang. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →