‹ Semua renungan

Minggu, 16 Juli 2028

Sudah di Mulutmu

Kadang kita mencari jauh-jauh apa yang sebenarnya ada di dekat kita. Kacamata dicari ke mana-mana, padahal bertengger di kepala. Kunci diobrak-abrik seisi rumah, padahal ada di saku. Yang paling dekat justru paling sering terlewat, karena kita menyangka sesuatu yang penting pasti tersembunyi jauh.

Musa menegur cara berpikir itu. "Perintah ini tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh. Tidak di langit tempatnya, juga tidak di seberang laut. Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan." Kehendak Allah bukan rahasia rumit yang harus diambil dari langit. Ia sudah ditaruh sedekat mulut dan hati kita. Yang kurang bukan pengetahuan, melainkan pelaksanaan.

Ahli Taurat dalam Injil sebenarnya sudah tahu jawabannya. Ketika ditanya Yesus, ia lancar menjawab: kasihilah Allah dengan segenap hati, dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Betul, kata Yesus, perbuatlah demikian maka engkau akan hidup. Persoalannya bukan tidak tahu. Persoalannya, ia lalu bertanya, "Dan siapakah sesamaku manusia?" Ia mencari celah untuk memperkecil kewajibannya.

Maka Yesus bercerita tentang orang yang jatuh ke tangan penyamun. Seorang imam lewat, seorang Lewi lewat, keduanya orang yang paling tahu hukum kasih. Justru seorang Samaria, yang dianggap asing dan sesat, yang berhenti, membalut luka, dan membayar penginapan. Yang tahu belum tentu melakukan. Yang dianggap jauh dari Allah malah paling dekat dengan hati Allah.

Perhatikan pertanyaan Yesus di akhir. Ahli Taurat bertanya siapakah sesamaku, seakan menunggu daftar orang yang wajib dikasihi. Yesus membalik pertanyaannya: siapakah yang menjadi sesama bagi orang itu? Sesama bukan kategori untuk dipilih-pilih, melainkan sikap untuk dijalani. Aku tidak menunggu menemukan siapa sesamaku. Aku yang memutuskan menjadi sesama bagi siapa pun yang terluka di jalanku.

Bacaan kedua menaruh Kristus sebagai pusat dari semuanya. Ia gambar Allah yang tidak kelihatan, dan di dalam Dia segala sesuatu diciptakan dan dipersatukan. Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama tidak pernah berjalan sendiri-sendiri, sebab keduanya bertemu di dalam Dia. Menolong orang yang terluka di jalan sebenarnya menyentuh Dia yang menopang seluruh ciptaan.

Firman itu sudah di mulut dan hatiku. Yang tinggal satu: turun tangan. Siapa yang tergeletak di pinggir jalan hidupku pekan ini, menunggu aku berhenti?

Tuhan, firman-Mu sudah sedekat mulut dan hatiku. Beri aku keberanian untuk berhenti, membungkuk, dan menjadi sesama bagi yang terluka. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →