‹ Semua renungan

Sabtu, 15 Juli 2028

Bara pada Bibir

Siapa yang pernah menyalakan tungku dengan bara tahu, bara itu tidak boleh disentuh tangan. Ia kecil, tetapi panasnya sanggup melukai. Untuk memindahkannya, orang memakai sepit atau penjepit. Bara adalah api yang dijinakkan dalam bentuk sekecil mungkin, tetapi tetap api.

Dalam penglihatannya, Yesaya melihat Tuhan di atas takhta, dan ia merasa hancur: "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir." Ia sadar tidak layak berdiri di hadapan Yang Kudus. Lalu seorang Serafim terbang mendatanginya, membawa bara dari atas mezbah, dan menyentuhkannya ke mulut Yesaya: "Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus."

Perhatikan urutannya. Yesaya tidak lebih dulu memperbaiki diri baru dipakai. Ia disucikan dulu oleh bara dari mezbah Allah, baru kemudian dipanggil. Dan begitu bibirnya dibersihkan, ia mendengar suara Tuhan: "Siapakah yang akan Kuutus?" Jawabnya spontan: "Ini aku, utuslah aku!"

Rupanya kesediaan untuk diutus lahir dari pengalaman disucikan. Orang yang tahu dirinya najis lalu dibersihkan dengan cuma-cuma, sulit menolak ketika dipanggil.

Dalam Injil, Yesus berkata jangan takut mengakui Dia di depan manusia. Bibir yang sudah disentuh bara Allah memang tidak lagi pantas untuk diam.

Kalau hari ini Tuhan bertanya siapa yang mau Ia utus, apakah bibirku cukup berani menjawab: ini aku?

Tuhan, sentuhlah bibirku dengan bara-Mu, sucikanlah aku, lalu utuslah aku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →