Minggu, 14 Mei 2028
Dipilih Lebih Dulu
Waktu kecil, mungkin kita pernah merasakannya di lapangan: dua anak menjadi kapten, lalu bergiliran memilih anggota regu. Yang dipanggil pertama berbinar. Yang tersisa paling akhir menunduk. Dipilih atau tidak dipilih, urutannya saja sudah cukup untuk membuat hati kecil kita naik atau turun. Rupanya kerinduan untuk dipilih itu ikut tumbuh bersama kita sampai dewasa.
Pada Hari Minggu Paskah V ini, Yesus menyentuh kerinduan itu dengan satu kalimat yang membalik segalanya: "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu." Dalam relasi dengan Tuhan, kita bukan pihak yang menyeleksi, melainkan pihak yang dipanggil. Sering kita membayangkan iman sebagai keputusan kita memilih Tuhan. Padahal jauh sebelum kita menoleh kepada-Nya, Ia sudah menunjuk kita lebih dulu. "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu."
Bacaan pertama memperlihatkan hal yang sama dalam Gereja perdana. Kursi kerasulan yang kosong harus diisi, dan Matias masuk menggantikan. Namanya nyaris tidak pernah kita dengar lagi sesudahnya. Ia tidak melamar, tidak berkampanye. Ia dipilih, lalu setia. Dipilih bukan untuk terkenal, melainkan untuk menghasilkan buah yang tetap.
Dan itulah tujuan pemilihan, kata Yesus: "Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah, dan buahmu itu tetap." Kita dipilih bukan untuk dipajang, melainkan untuk berbuah. Bukan untuk merasa istimewa, melainkan untuk mengasihi. Sebab ujung dari semua pemilihan ini satu perintah sederhana: "Kasihilah seorang akan yang lain."
Yesus bahkan tidak lagi menyebut kita hamba, melainkan sahabat. Hamba menurut karena takut, dan tidak tahu isi hati tuannya. Sahabat diberi tahu segalanya. Kita diangkat dari sekadar bawahan menjadi orang kepercayaan, yang kepadanya Allah membuka hati-Nya. Bukankah ini pembalikan yang luar biasa? Kita yang tidak melamar, tidak berjasa, tiba-tiba disebut sahabat oleh Sang Empunya hidup. Dan persahabatan itu punya ukuran yang tegas, kata Yesus: "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." Dipilih menjadi sahabat berarti dipanggil untuk mengasihi sampai serela itu.
Kalau hari ini kita merasa kecil, terlupakan, tidak pernah dipilih siapa pun untuk apa pun, ingatlah: dari sekian banyak manusia, Allah sudah menyebut nama kita lebih dulu. Tinggal kita menjawab dengan setia dan berbuah.
Tuhan, Engkau memilihku sebelum aku mencari-Mu. Jadikanlah aku sahabat-Mu yang setia, yang berbuah dalam kasih. Amin.