‹ Semua renungan

Senin, 15 Mei 2028

Saksi dalam Hujan

Petani punya kalender yang tidak tertulis di dinding. Ia membacanya dari langit: kapan mendung berkumpul, kapan angin berganti arah, kapan hujan pertama turun membasahi tanah yang retak. Bagi yang mau memperhatikan, cuaca adalah semacam surat yang dikirim dari atas, tanpa kata tetapi penuh maksud.

Di Listra, orang banyak keliru. Melihat mukjizat, mereka mengira Paulus dan Barnabas adalah dewa yang turun, lalu hendak mempersembahkan korban. Kedua rasul mengoyakkan pakaian dan berseru, "Kami ini manusia biasa sama seperti kamu!" Lalu mereka menunjuk ke bukti yang selama ini terabaikan: Allah tidak membiarkan diri-Nya tanpa kesaksian, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan memberikan musim-musim subur, memuaskan hati dengan makanan dan kegembiraan.

Sungguh menakjubkan. Ternyata sebelum ada khotbah, sudah ada hujan. Sebelum ada mimbar, sudah ada panen. Allah bersaksi tentang diri-Nya setiap kali padi menguning dan setiap kali nasi mengepul di meja. Kita begitu terbiasa sampai lupa bahwa semua itu pemberian, bukan kebetulan.

Orang tua di kampung punya cara ringkas mengungkapkannya: gusti ora sare, Tuhan tidak pernah tidur. Ia menjaga musim, juga menjaga kita. Hari ini, ketika hujan turun atau nasi terhidang, adakah kita masih sempat berkata terima kasih?

Tuhan, Engkau bersaksi dalam hujan dan panen. Bukalah mataku untuk membaca kebaikan-Mu dalam hal-hal yang kuanggap biasa. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →