‹ Semua renungan

Sabtu, 13 Mei 2028

Ketika Tetangga Ramai

Warung yang sepi sebenarnya masih bisa tersenyum, sampai ia menoleh ke warung sebelah yang antreannya mengular. Di titik itu hati mulai panas. Bukan karena kita kekurangan, melainkan karena orang lain kelebihan. Iri hati memang begitu tabiatnya: ia lahir bukan dari kesusahan kita, tetapi dari keberhasilan orang.

Di Antiokhia, ketika hampir seluruh kota berkumpul mendengar firman Allah, Lukas mencatat reaksi yang menyedihkan: "ketika orang Yahudi melihat orang banyak itu, penuhlah mereka dengan iri hati." Yang membuat mereka panas bukan ajaran yang salah, melainkan kursi yang penuh. Kabar baik yang seharusnya membuat semua bersukacita malah memicu dengki, hanya karena datang lewat mulut Paulus, bukan mulut mereka.

Iri hati selalu menyempitkan. Ia membuat orang lebih rela kabar baik gagal daripada melihat orang lain berhasil menyampaikannya. Sebaliknya, lihat para murid: mereka diusir dari kota, tetapi penuh dengan sukacita dan dengan Roh Kudus. Hati yang lapang tetap bisa bersukacita meski bukan dirinya yang dipuji.

Kapan terakhir kali keberhasilan orang lain membuat kita ikut senang, tanpa diam-diam berharap ia tersandung? Di situ ketahuan, hati kita sedang lapang atau sedang sempit.

Tuhan, luaskanlah hatiku, agar aku turut bersukacita atas kebaikan yang datang lewat orang lain. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →