Jumat, 12 Mei 2028
Kamar yang Disiapkan
Menjelang seorang anak pulang dari perantauan, ada satu pekerjaan yang paling dinikmati seorang ibu: menyiapkan kamar. Sprei diganti, jendela dibuka, debu diseka. Kamar yang disiapkan dengan tangan adalah bahasa cinta yang tidak perlu diucapkan. Ia berkata: kamu ditunggu, kamu punya tempat di sini.
Malam sebelum sengsara, hati para murid gelisah. Yesus menenangkan mereka bukan dengan menyangkal bahwa Ia akan pergi, melainkan dengan menjelaskan ke mana Ia pergi. "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu." Kepergian-Nya bukan meninggalkan, melainkan mendahului. Ia berangkat lebih dulu untuk membenahi kamar bagi kita.
Tomas belum mengerti dan bertanya polos, "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?" Jawaban Yesus tidak menunjuk peta, melainkan diri-Nya: "Akulah jalan." Jalan pulang ke rumah Bapa bukan sederet petunjuk, melainkan sebuah Pribadi yang boleh kita ikuti.
Ketika hati kita gelisah memikirkan hari depan, ada baiknya kita ingat: ada kamar yang sedang disiapkan. Kita bukan menuju ketiadaan, melainkan menuju rumah yang penghuninya sudah menunggu.
Tuhan, ketika hatiku gelisah, ingatkanlah aku bahwa Engkau sedang menyiapkan tempat bagiku, dan Engkau sendiri jalan menuju ke sana. Amin.