Kamis, 11 Mei 2028
Bukan Aku yang Dinanti
Bayangkan seseorang keliru disangka sebagai tamu kehormatan. Karpet digelar, orang berdiri, tepuk tangan menyambut. Yang jujur akan segera meluruskan, "Maaf, bukan saya yang kalian tunggu. Beliau datang sebentar lagi." Butuh hati yang bersih untuk menolak sorotan yang bukan haknya.
Dalam khotbahnya di Antiokhia, Paulus mengenang sikap Yohanes Pembaptis. Ketika banyak orang mulai menyangka dialah Sang Mesias, Yohanes buru-buru meluruskan: "Aku bukanlah Dia yang kamu sangka. Membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak." Padahal ia sedang di puncak ketenaran, dikerumuni orang dari seluruh negeri. Ia bisa saja menikmati salah sangka itu. Tetapi ia memilih menunjuk ke arah lain, ke Dia yang datang sesudahnya.
Yesus meneguhkan sikap itu dalam Injil hari ini: "Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya." Kita ini utusan, bukan pengutus. Pesuruh, bukan sumber pesan. Melayani berarti membuat orang melihat Sang Tuan, bukan melihat kita.
Godaan pelayanan yang paling halus adalah ketika tepuk tangan yang seharusnya untuk Tuhan pelan-pelan kita simpan untuk diri sendiri. Hari ini, ketika ada pujian datang, beranikah kita menunjuk ke arah yang benar?
Tuhan, jadikanlah aku penunjuk jalan kepada-Mu, bukan tujuan akhir. Biarlah aku mengecil, dan Engkau membesar. Amin.