Minggu, 23 April 2028
Napas untuk Mengampuni
Minggu lalu kita berlari bersama Petrus dan Yohanes ke kubur yang kosong. Hari ini kita masuk ke sebuah ruangan yang tertutup rapat. Para murid berkumpul di balik pintu yang terkunci, karena mereka takut. Kubur memang sudah kosong, tetapi hati mereka masih terkurung. Sukacita Paskah belum tentu langsung mengusir ketakutan.
Ke dalam ruangan yang terkunci itu Yesus datang dan berdiri di tengah mereka. Kata pertama-Nya bukan teguran atas kegagalan mereka meninggalkan Dia di taman Getsemani. Kata pertama-Nya adalah, "Damai sejahtera bagi kamu." Ia mengulanginya lagi beberapa saat kemudian. Orang yang punya seribu alasan untuk menagih justru datang membawa damai. Itulah wajah kerahiman yang kita rayakan hari ini.
Lalu Yesus melakukan sesuatu yang menggemakan hari penciptaan. Ia mengembusi mereka dan berkata, "Terimalah Roh Kudus." Dahulu Allah mengembuskan napas ke hidung manusia dari tanah dan ia menjadi makhluk hidup. Kini Yesus mengembuskan napas baru, dan bersama napas itu diberikan tugas yang mengejutkan, "Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni." Karunia pertama Paskah kepada Gereja ternyata kuasa untuk mengampuni. Kerahiman yang mereka terima harus mereka teruskan.
Tetapi ada satu murid yang tidak hadir malam itu. Tomas. Ketika yang lain berkata, "Kami telah melihat Tuhan," ia menolak percaya begitu saja. Ia mau meraba sendiri bekas paku itu. Dan inilah yang mengharukan: seminggu kemudian Yesus datang lagi, seakan khusus untuk satu orang yang ragu ini. Ia tidak menegur Tomas dari jauh, melainkan mengulurkan tangan-Nya yang terluka, "Taruhlah jarimu di sini." Kerahiman itu sabar. Ia bersedia kembali demi satu orang yang belum sanggup percaya.
Bacaan pertama memperlihatkan kerahiman itu meluap keluar dari ruang tertutup ke jalan raya. Orang-orang membawa yang sakit ke luar dan membaringkannya di jalan, berharap setidaknya bayangan Petrus yang lewat mengenai mereka. Bahkan bayangan pun membawa penyembuhan, karena yang bekerja di dalamnya adalah kerahiman Tuhan yang tak terbendung.
Kita sering membayangkan kerahiman sebagai sesuatu yang hanya kita terima. Benar, tetapi tidak berhenti di situ. Napas yang sama yang kita terima dihembuskan untuk kita teruskan. Adakah seseorang yang menunggu pengampunan dari kita, sementara kita masih mengunci pintu hati rapat-rapat?
Tuhan yang penuh kerahiman, Engkau menembus pintu ketakutanku dan membawa damai. Embuskan Roh-Mu ke dalam aku, dan beri aku kelapangan hati untuk mengampuni seperti aku telah Kauampuni. Amin.