Sabtu, 22 April 2028
Percaya pada Kata Saksi
Injil Markus hari ini adalah rangkaian penolakan yang hampir lucu kalau tidak menyedihkan. Yesus bangkit dan menampakkan diri kepada Maria Magdalena. Maria memberi tahu murid-murid, "tetapi ketika mereka mendengar bahwa Yesus hidup, mereka tidak percaya." Lalu Ia menampakkan diri kepada dua orang di jalan. Keduanya kembali dan memberi tahu yang lain, "tetapi kepada mereka pun teman-teman itu tidak percaya."
Ada pola yang terus berulang. Seseorang berjumpa dengan Yesus yang hidup, lalu bersaksi, lalu tidak dipercaya. Kabar sukacita itu terus mental. Akhirnya Yesus sendiri menampakkan diri kepada kesebelas murid dan menegur ketidakpercayaan serta kedegilan hati mereka, karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang sudah melihat Dia.
Perhatikan apa yang ditegur. Bukan karena mereka tidak melihat sendiri, melainkan karena mereka menolak percaya pada kesaksian orang lain. Rupanya iman menuntut kita bersedia mempercayai saksi yang dapat dipercaya, tidak selalu harus menyaksikan sendiri segala sesuatu. Kita memang tidak mungkin mengalami semuanya secara langsung. Sebagian besar yang kita ketahui tentang dunia pun kita terima dari kesaksian orang lain yang kita percaya.
Yang menarik, murid-murid yang tadinya keras kepala menolak percaya justru kemudian diutus. "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk." Mereka yang tadinya tidak mau mempercayai saksi kini diangkat menjadi saksi yang harus dipercaya orang lain. Betapa sabarnya Tuhan. Ia tidak membuang orang yang lambat percaya; Ia justru mengutus mereka.
Bacaan pertama memperlihatkan mereka sudah berubah total. Mahkamah Agama heran melihat keberanian Petrus dan Yohanes, orang biasa yang tidak terpelajar. Yang dulu mengunci diri karena takut kini berkata terus terang, "tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan kami dengar." Yang tadinya menolak kesaksian kini tidak bisa berhenti bersaksi.
Iman kita pun sampai kepada kita lewat rantai panjang para saksi: orang tua, guru agama, teman, para kudus yang menuliskan pengalaman mereka. Tidak ada orang yang sampai kepada iman seorang diri; selalu ada seseorang yang lebih dulu percaya dan berani menceritakannya, meski berisiko ditolak seperti Maria Magdalena. Sudahkah kita cukup rendah hati untuk percaya pada mereka yang lebih dulu berjumpa dengan Tuhan, lalu menjadi mata rantai berikutnya?
Tuhan, sembuhkan hatiku yang kadang degil dan lambat percaya. Beri aku kerendahan hati untuk mendengar para saksi-Mu, dan keberanian untuk menjadi saksi bagi orang sesudahku. Amin.